
Terlihat di Gedung Gereja GMIT Imanuel Nemberala, Greg Phelps tengah berjabat tangan dengan Pelaksana Jabatan PJ. Kepala Desa Nemberala, ketika pendistribusian dana ganti rugi Montara. (6/3/24), (Foto: Abdurahman Budi).
NEMBERALA | Nemberalanews.com – Kasus pencemaran laut Timor akibat ledakan ladang minyak dan gas bumi di Blok Montara pada tahun 2009 masih terus memunculkan kontroversi, terutama terkait penyaluran dana kompensasi kepada masyarakat terdampak.
Salah satu titik perdebatan yang hangat muncul di Desa Nemberala, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dimana, nilai kompensasi yang diterima disebut jauh lebih kecil dibandingkan desa-desa lain, dengan selisih yang mencapai hampir Rp30 ribu per kilogram.
Dana kompensasi Montara yang dikelola oleh Maurice Blackburn Lawyers menjadi sorotan publik setelah unggahan video dari akun Facebook “@Truth Unfiltered” menuduhkan adanya penyimpangan dalam proses penyaluran dana. Dalam video tersebut, disebutkan bahwa penyaluran dana yang diurus oleh yayasan milik Erasmus Frans Mandato atau yang lebih dikenal sebagai Mus Frans diduga ada “permainan” yang menjadi penyebab terjadinya selisih harga tersebut.
Menanggapi tuduhan yang beredar tersebut, firma hukum Phelps Legal melalui Greg Phelps memberikan tanggapan resmi. Surat tanggapan ini diterima dari Abdurahman Budi, rekan kerja Greg, melalui WhatsApp kepada Nemberalanews.com pada Senin, (16/3/2026). Dalam surat tersebut, firma hukum Phelps Legal menyatakan dengan tegas bahwa semua rumor yang beredar tentang Mus Frans adalah salah dan merupakan kebohongan. “Erasmus Frans sama sekali tidak ada hubungannya, benar-benar tidak terlibat, dengan perhitungan kompensasi untuk aksi gugatan masal (class action) Montara,” bunyi pernyataan tersebut.
Greg Phelps, selaku pemimpin firma hukum Phelps Legal, juga menjelaskan secara rinci mengenai perhitungan kompensasi. Ia menyatakan bahwa kompensasi untuk Nemberala dihitung berdasarkan informasi yang diberikan kepada para pengacara dan akuntan di Sydney. Rumus dan metode perhitungan yang digunakan pun sama persis seperti yang diterapkan pada ke-81 desa lainnya yang terdampak.
Lebih lanjut, Greg Phelps mengungkapkan alasan mengapa nilai kompensasi di Nemberala tercatat lebih rendah dibandingkan desa-desa lain. Dia berkata, hal ini disebabkan oleh informasi mengenai harga dan produksi yang diberikan oleh perangkat desa Nemberala sendiri kepada tim Montara.
Dalam catatan pribadinya, Greg Phelps juga menegaskan kembali hal yang sama. Ia berharap masyarakat Rote Barat dapat mengingat nilai-nilai Kristiani dan tidak menyebarkan informasi yang tidak benar atau menuduh tanpa bukti yang jelas. “Tolong jangan berbohong tentang Pak Mus. Tolong jangan berbohong tentang saya. Tolonglah, bersikap baiklah satu sama lain,” tulis Greg Phelps dalam catatan tersebut.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi yang diterima dari pihak Erasmus Frans Mandato atau yayasan yang diurusnya terkait tuduhan dan bantahan yang telah muncul. Kasus ini masih terus memantik perdebatan ditengah masyarakat luas, dan diharapkan dapat diselesaikan dengan cara yang adil serta transparan bagi semua pihak yang terlibat.(*)



