
Momen Anggota DPRD Kabupaten Rote Ndao, Mersianus Tite, bersama warga tani Desa Meoain, Kecamatan Rote Barat Daya, di lokasi perkebunan Na’u Ina, Senin, 11 Mei 2026 (Foto: Exel A. Lani).
MEOAIN | Nemberalanews.com – Desa Meoain di Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, menyimpan potensi pertanian yang sangat besar. Wilayah ini memiliki pola musim yang jelas: bulan November hingga Maret menjadi masa penanaman padi saat curah hujan cukup tinggi. Sebaliknya, pada bulan April hingga Oktober atau musim kemarau, warga beralih menanam bawang, semangka, dan komoditas lain yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Kendala utama yang dirasakan hingga kini adalah sulitnya akses air irigasi maupun air bersih, masalah yang ternyata sudah dialami sejak zaman nenek moyang.
Menjawab tantangan tersebut, pada Senin, (11/5/2026), Mersianus Tite, Anggota DPRD Kabupaten Rote Ndao periode 2024–2029 dari fraksi partai Hati Nurani Rakyat (HANURA) Daerah Pemilihan 3, melaksanakan Kunjungan Kerja Reses Tahun Anggaran 2026. Pantauan Nemberalanews.com, di Dusun Meoain Timur, suasana berlangsung hangat dan akrab. Mersianus terlihat duduk di atas hamparan jerami kering sisa panen, berbaur langsung dengan warga untuk mendengarkan aspirasi.
“Saya datang ke tengah bapa dan mama semua untuk menyerap langsung kebutuhan dan kendala di sini. Tujuannya agar beta (dibaca-saya) bisa sampaikan secara resmi kepada Pemerintah Kabupaten Rote Ndao,” ujar Mersianus membuka dialog.
Mewakili masyarakat, Adiyanto Mesah (36), menjelaskan bahwa di lokasi perkebunan Na’u Ina sebenarnya sudah ada dua sumber air. Pertama berupa sumur galian sedalam 5 meter, dan kedua sumur bor hasil bantuan pemerintah. Namun, kondisi sumur galian kini tertutup lumpur dan tumbuhan liar, sehingga debit airnya sangat kecil dan belum mampu mengairi seluruh lahan.
“Kami sangat memohon bantuan alat berat ekskavator. Kami ingin memperlebar dan memperdalam sumber air tersebut, supaya air cukup mengalir ke sawah dan ladang kami,” ungkap Adiyanto.
Permasalahan air bersih pun belum terpecahkan hingga hari ini, karena belum ada layanan PDAM masuk ke desa. Padahal pada masa kepemimpinan Bupati Christian Nehemia Dillak, S.H., telah dibangun sumur bor lengkap dengan bak penampungan lewat program Pamsimas. Sayangnya fasilitas itu tidak berfungsi lama, karena tenaga mesin tidak cukup kuat mengangkat air dari kedalaman, hingga akhirnya rusak dan terbengkalai.
Untuk tetap bertani, warga kini menanggung beban biaya tinggi. Menggunakan pompa kecil berbahan bakar, konsumsi harian mencapai 10 liter Pertalite. Dalam satu bulan jumlahnya bisa tembus 300 liter, dan berlangsung selama 2 hingga 3 bulan penuh saat kemarau.
Karena itu, harapan terbesar masyarakat tertuju pada penyambungan jaringan listrik PLN. Jalur utama kabel diketahui hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari pemukiman.
“Kalau listrik sudah masuk, kami sangat bersyukur. Sumur bor dan mata air yang ada bisa kami hidupkan kembali dengan pompa listrik. Irigasi terpenuhi, sekaligus kami punya akses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari yang kami cari sejak moyang kami dari dulu,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Adiyanto juga menyampaikan rasa syukur mendalam karena kehadiran Mersianus Tite tidak hanya sekadar menyerap aspirasi, tetapi juga membawa bantuan nyata bagi petani.
“Kami bersyukur sekali Bapak Dewan hadir di tengah kami. Beliau sudah memberikan bantuan alat pertanian yang sangat bermanfaat. Di antaranya traktor mini atau kultivator, selang air, dan mesin pompa air. Ini sangat membantu pekerjaan kami di ladang, khususnya di lokasi Meoain ini,” ujar Adiyanto dengan gembira.
Atas perhatian tersebut, masyarakat berharap pemerintah ke depan semakin meningkatkan dukungan. Semangat bertani warga Desa Meoain dinilai sangat tinggi, dan mereka berharap perhatian serupa terus berlanjut demi kemajuan daerah.
“Harapan kami, pemerintah lebih lagi membantu masyarakat. Kami sangat antusias bertani, mohon kiranya pertanian di desa ini lebih diperhatikan. Seperti yang sudah dilakukan Bapak Dewan hari ini, semoga terus berlanjut,” lanjutnya.
Usulan utama terkait pengembangan sumber air dan listrik nantinya akan dituangkan dalam proposal resmi dan disampaikan kepada Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, S.H.
Merespons hal itu, Mersianus Tite berjanji akan memperjuangkan kebutuhan tersebut. “Segera selesaikan proposalnya. Nanti beta bawa ke Dinas terkait, menghadap Bupati, dan masukkan dalam pembahasan Anggaran Perubahan Tahun 2026. Kami pastikan kebutuhan warga Meoain segera terakomodir,” tegasnya.
Kini harapan masyarakat semakin besar. Dukungan sarana irigasi dan listrik diharapkan segera terwujud, agar pertanian produktif berjalan sepanjang tahun dan masalah air bersih yang dari moyang turun-temurun belum tersentuh warga dapat diwujudkan oleh pemerintahan Rote Ndao.(*)






