
tampak 4 bocah peselancar mudah, Sisi Kanan Vito, Sisi Kiri Guevara, tengah kiri Morgan, Tengah Kanan Darel. Generasi Emas Olahraga Selancar Rote Ndao. (Foto: Sergius S. Tobuawen).
NEMBERALA | Nemberalanews.com – Di pesisir Desa Nemberala, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, terbentang hamparan keindahan alam yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga menjelma menjadi surga sejati bagi para penggila olahraga air.
Wilayah ini telah lama tercatat sebagai salah satu destinasi selancar terbaik di Indonesia, bahkan dunia, diberkahi deretan titik ombak berkelas dunia: mulai dari Besialu yang berkarakter kuat, Banana dengan alur gulungannya yang memikat, Ti Land, Oemau Desa Bo’a, yang menawarkan tantangan teknis, hingga Tirosa yang menjadi favorit peselancar dari berbagai tingkatan.
Variasi karakter ombak—dari yang lembut dan ramah bagi pemula hingga yang tinggi dan cepat menuntut keahlian tinggi—menjadikan perairan ini bukan sekadar arena latihan bagi peselancar profesional, melainkan juga ruang tumbuh alami yang ideal bagi bibit-bibit muda yang mulai mengarungi dunia atletik selancar.
Di tengah gemuruh ombak dan pemandangan laut yang membiru, semangat luar biasa terlihat terpancar dari empat anak berusia Sekolah Dasar. Mereka adalah wajah baru harapan selancar Nemberala, yang setiap waktu luang dan hari libur hadir di bibir pantai Besialu, siap membelah air dan menaklukkan setiap gulungan ombak yang datang.
Keempat bocah ini selalu tampil bersemangat, dengan ciri khas pakaian berwarna-warni yang mudah dikenali: satu berbaju putih, satu lagi berbalut hitam, ada yang mengenakan hijau, dan satu lainnya tampil dengan baju berwarna biru. Bagi mereka, hamparan laut adalah lapangan latihan tanpa batas, dan setiap ombak yang mendekat adalah lawan yang harus ditaklukkan demi mengasah bakat dan kemampuan sejak usia dini.
Namun, di balik senyum ceria dan keberanian mereka menantang ombak, terselip satu harapan sederhana yang masih menanti jawaban. Saat ditemui awak Nemberalanews.com pada Sabtu (30/5/2026), keempat anak ini menyampaikan permohonan tulus dengan nada yang senada, penuh ketulusan dan keinginan kuat untuk terus berlatih. Mereka meminta uluran tangan kepada siapa saja—teman, kenalan, maupun para peselancar—yang memiliki perlengkapan selancar berlebih atau tidak terpakai, khususnya sirip atau fin papan selancar.
“Om Segi, kalau ada kenalan yang punya kelebihan fin, tolong kasih kotong dolo. Atau kalau ada yang punya lebihan wax atau lilin papan selancar, tolong kasih kotong pakai buat latihan surfing,” ungkap mereka berempat dengan tatapan berbinar namun penuh harap.
Mereka menjelaskan, kebutuhan perlengkapan itu cukup mendesak. Secara rinci, mereka memerlukan total 12 buah fin yang akan dibagi bersama. Meski setiap jenis papan selancar membutuhkan bentuk dan ukuran fin yang berbeda, mereka berharap bisa mendapatkan masing-masing 3 buah fin. Jumlah itu dianggap pas untuk melengkapi keseimbangan papan saat meluncur, sehingga gerakan di atas ombak menjadi lebih stabil, terkontrol, dan memungkinkan mereka berlatih teknik yang lebih baik. Permintaan sederhana ini menjadi cerminan nyata betapa besarnya keinginan mereka mengembangkan bakat, meski harus berjuang di tengah keterbatasan alat bantu yang sangat krusial dalam olahraga selancar.
Potensi pariwisata Desa Nemberala sesungguhnya sangatlah besar dan berlimpah. Daya tariknya tidak hanya bersumber dari keindahan pemandangan alam serta kualitas ombak berstandar internasional di titik Besialu, Banana, Ti Land, dan Tirosa, tetapi juga dari antusiasme tinggi warga lokal—terutama generasi muda—yang sangat mencintai dan menjaga olahraga ini.
Keberadaan bibit peselancar muda seperti keempat bocah ini adalah kekayaan tak ternilai yang perlu didukung, dibina, dan dikembangkan. Bantuan sederhana berupa perlengkapan yang mereka minta akan menjadi dorongan besar bagi mereka, sekaligus langkah nyata menjaga nama baik Nemberala sebagai pusat selancar unggulan di Nusa Tenggara Timur, agar terus bersinar dari generasi ke generasi.
Sambil menanti uluran tangan dari siapa saja yang peduli, keempat anak ini tak akan berhenti. Mereka akan kembali lagi ke tepian Besialu, membawa harapan besar dan mimpi indah: suatu hari nanti, dengan papan yang lengkap dan kemampuan yang terasah, mereka bisa mengharumkan nama daerah kelahirannya di kancah olahraga selancar nasional maupun internasional. Semangat mereka adalah bukti hidup bahwa di Nemberala, ombak dan mimpi selalu berkejaran bagai gulungan ombak ke tepian.(*)





