
IRAN | nemberalanews.com – Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali melancarkan serangan terhadap Iran di tengah berlangsungnya proses perundingan diplomatik, sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa upaya diplomasi seolah-olah tidak diseriusi secara penuh.
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev menilai bahwa perundingan antara AS dan Iran merupakan bentuk pengecoh. “Si pendorong perdamaian sekali lagi menunjukkan tabiat aslinya. Semua perundingan dengan Iran hanyalah operasi pengecohan. Tak ada yang meragukan itu,” tulisnya melalui akun media sosial pada hari Sabtu (28/2/2026), sebagaimana diberitakan kompas.com.
Pernyataan tersebut disampaikannya setelah AS dan Israel melakukan serangan terhadap Iran pada pagi hari yang sama. Departemen Perang AS menyebut operasi kali ini sebagai Operasi Epic Fury (Kemarahan Besar), sementara pihak Israel menamainya Operasi Singa Mengaum. Sebelumnya, pada bulan Juni 2025, kedua negara juga telah melakukan serbuan ke wilayah Iran dengan nama operasi yang berbeda; AS menyebutnya Godam Tengah Malam (Midnight Hammer) dan Israel menyebut Singa Bangkit (Rising Lion).
Seperti halnya serangan tahun lalu, tindakan militer kali ini juga dilaksanakan di tengah proses perundingan yang tengah berjalan. Pada hari Kamis sebelumnya, delegasi AS dan Iran telah melakukan pertemuan perundingan di Geneva, Swiss. Hasil dari pertemuan tersebut mencakup kesepakatan bahwa tim teknis kedua negara akan bertemu di Vienna, Austria, pada hari Senin mendatang, serta akan ditemani oleh perwakilan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) untuk membahas terkait pengawasan program nuklir Iran.
Selain itu, Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi telah melakukan perjalanan dari Geneva ke Washington DC, AS, setelah pertemuan tersebut. Di ibu kota AS, ia diterima oleh Wakil Presiden AS JD Vance untuk membahas upaya peredaan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Oman berperan sebagai penengah dalam putaran baru perundingan antara AS dan Iran.
Setelah bertemu dengan Vance, Al-Busaidi juga menghubungi sejumlah petinggi negara-negara di kawasan Timur Tengah dan menghadiri wawancara eksklusif dengan media AS, CBS News. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan optimisme terkait peluang mencapai kesepakatan damai. “Kesepakatan damai berada dalam jangkauan kita jika kita memberi diplomasi ruang yang dibutuhkan untuk mencapainya. Sebab, saya rasa tidak ada alternatif selain diplomasi yang akan menyelesaikan masalah ini,” ujar Al-Busaidi kepada pembawa acara Margaret Brennan.
Namun, tidak lama setelah pernyataan tersebut disampaikan, AS dan Israel kembali melancarkan serangan ke Iran. Tak sampai beberapa jam kemudian, pihak Iran telah melakukan tindakan pembalasan terhadap serangan tersebut.(*)



