
JAKARTA | nemberalanews.com – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan bahwa kasus bunuh diri anak di Indonesia menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Pernyataan ini muncul setelah terjadi kasus tragis di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana seorang siswa diduga mengakhiri hidupnya karena tidak memiliki uang untuk membeli buku dan pena.
Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, sebagaimana dilansir detikhealth pada Senin (16/2/2026), menyampaikan kekhawatiran mendalam terkait peristiwa tersebut. “Kami sangat prihatin. Anak seharusnya mendapatkan hak atas pendidikan, termasuk fasilitas dasar penunjang belajar. Ketika hak tersebut tidak terpenuhi, dampaknya bisa sangat serius bagi kondisi psikologis anak,” ujarnya.
Menurut KPAI, tingginya angka kasus bunuh diri anak telah memasuki tahap darurat dan memerlukan penanganan komprehensif dari semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah. Instansi ini juga menegaskan bahwa kasus seperti yang terjadi di Ngada tidak dapat hanya dilihat dari sisi kemiskinan semata. Ada potensi faktor lain yang turut berperan, seperti pola pengasuhan dan lingkungan sekolah.
“Memang anak ini tidak mampu membeli buku dan pena. Namun, kami juga melihat kemungkinan faktor pengasuhan karena orang tua tidak berada di samping anak. Selain itu, perlu didalami apakah anak juga mengalami bullying di sekolah karena belum memiliki perlengkapan belajar,” jelas Diyah.
Data dari KPAI menunjukkan tren kasus bunuh diri anak terus muncul dari tahun ke tahun. Pada tahun 2023 tercatat 46 kasus, tahun 2024 sebanyak 43 kasus, dan sepanjang tahun 2025 ada 25 kasus. Memasuki awal tahun 2026, sudah tercatat tiga laporan kasus bunuh diri anak, termasuk peristiwa di Ngada. “Ini tidak bisa kita normalisasi. Secara garis besar Indonesia berada pada kondisi yang darurat anak mengakhiri hidup,” tegas Diyah.
Menurut catatan KPAI, faktor terbesar yang mendorong anak untuk mengakhiri hidup antara lain perundungan (bullying), pola pengasuhan yang tidak tepat, tekanan ekonomi, pengaruh game online, hingga persoalan asmara. “Kami berharap masyarakat juga tidak menganggap remeh sinyal-sinyal krisis psikologis pada anak. Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama,” pungkasnya.(*)




