
Terlihat kedua warga Nemberala, tengah gembira dengan hasil tangkapannya. Rabu (18/2/2026). (Foto: Warga Desa Nemberala).
NEMBERALA | nemberalanews.com – Di pesisir laut yang membentang meliputi Desa Nemberala, beserta wilayah Desa Oenggaut dan Sedeoen di Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sebuah fenomena tahunan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kini kembali menghiasi perairan lokal. Pada Rabu, 18 Februari 2026, suasana pantai yang biasanya tenang berubah menjadi ramai dan penuh semangat, ketika warga berbondong-bondong menyambut kedatangan musim anak ikan yang dikenal dengan nama lokal Lada Ana atau Baronang Susu.
Matahari yang mulai merunduk ke arah ufuk barat menyaksikan pemandangan yang sarat dengan makna budaya dan kehidupan sehari-hari. Di atas permukaan air yang tenang, masyarakat setempat berjejer rapi, masing-masing memegang alat tangkap khas yang disebut Ndai – sebuah jala kecil yang terbuat dari bahan waring. Gerakan mengayunkan jala kecil tersebut dilakukan dengan ritme yang teratur, seolah menjadi tarian yang diperagakan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelimpahan yang diberikan alam.
Tomas Lanny, salah seorang warga Desa Nemberala yang telah lama mengikuti tradisi penangkapan Lada Ana, menjelaskan bahwa kedatangan musim ikan ini memiliki pola yang telah dikenal secara mendalam oleh masyarakat lokal. “Musim lada ana biasanya datang sekali dalam setahun, muncul ketika pandangan kita ke arah matahari terbenam telah muncul bulan mulai memunculkan wajahnya, maka ikan pun telah ada,” ujarnya dengan nada yang penuh kebanggaan dan pemahaman mendalam terhadap alam sekitar.
Sebuah kearifan lokal yang tidak hanya menjadi pengetahuan, melainkan juga menjadi bagian dari identitas dan cara hidup yang menjunjung tinggi hubungan erat antara manusia dan alam. Pada pertengahan Februari tahun ini, kemunculan anak ikan Lada Ana diperkirakan akan berlangsung selama 3 hingga 4 hari. Sesuai dengan kebiasaan yang telah diamati selama bertahun-tahun, ketika ikan mulai sedikit bertambah besar, mereka akan secara alami tenggelam atau bersembunyi di dasar perairan atau di antara rerumputan laut, menandakan akhir dari musim yang dinantikan.
Karenanya, ketika momen yang ditunggu-tunggu tiba, warga tidak menyia-nyiakan kesempatan dan segera mulai aktivitas penangkapan dengan penuh kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Proses penangkapan dilakukan dengan memperhatikan kondisi alam yang ada. Kegiatan ini berlangsung ketika air dalam kondisi Meting atau air surut, sekitar pukul 3.00 WITA pada dini hari, serta pada pukul 7.00 WITA ketika air laut mulai memasuki fase pasang dan menunjukkan perubahan arah arus.
Ketika air laut mulai naik perlahan-lahan dari arah Utara menuju Selatan, anak ikan Lada Ana tampak dengan jelas mengikuti aliran tersebut, membuatnya lebih mudah untuk ditangkap tanpa harus melakukan usaha yang berlebihan atau merusak ekosistem perairan. Meskipun semuanya berlomba-lomba untuk mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal, namun suasana kekeluargaan dan kerjasama tetap terjalin erat di antara masyarakat. Warga saling membantu, baik dalam mencari lokasi yang tepat untuk menangkap ikan, maupun dalam membantu mengumpulkan hasil tangkapan dari sesama.
Kedatangan ikan Lada Ana tidak hanya menjadi momen untuk memenuhi kebutuhan pangan, melainkan juga sebagai ajang berkumpul bagi komunitas yang memperkuat tali persaudaraan dan rasa kebersamaan yang telah lama menjadi ciri khas masyarakat pesisir Rote Barat. Nilai penting yang dimiliki oleh anak ikan Lada Ana tidak hanya terbatas pada aspek pangan semata, melainkan juga menyentuh berbagai sisi kehidupan masyarakat lokal. Tujuan utama dari penangkapan ikan ini adalah untuk konsumsi lokal, dengan berbagai cara pengolahan yang telah menjadi bagian dari kekayaan kuliner tradisional daerah.
Beberapa warga membuat lawar – sebuah masakan khas NTT yang berbahan dasar campuran ikan dengan berbagai jenis sayuran lokal yang diaduk dengan bumbu khas yang memberikan cita rasa yang tak terlupakan. Sementara sebagian lainnya mengolahnya dengan cara – melapisi ikan dengan tepung dan digoreng hingga berwarna keemasan dan memiliki tekstur yang renyah. Ada pula sebagian yang menjemur di sinar matahari untuk mengawetkan ikan beberapa pekan kedepan untuk dikonsumsi lebih lanjut.
Ketika hasil tangkapan melimpah, masyarakat tidak pernah melupakan sesama saudara mereka. Warga seringkali melakukan tukar-menukar hasil tangkapan dengan beras kepada tetangga dari desa sekitar, ada juga yang dijual, sebuah praktik yang tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan ekonomi masing-masing keluarga, tetapi juga memperkuat tali silaturahmi dan kemandirian ekonomi lokal. Melalui praktik ini, nilai-nilai gotong royong dan saling membantu tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat, menjadi bukti bahwa kelimpahan alam tidak hanya harus dinikmati sendiri, melainkan juga harus dibagikan untuk kesejahteraan bersama.
Sebagai sebuah fenomena alam yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Rote Barat, kedatangan musim Lada Ana mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan menghargai kearifan lokal yang telah terbukti mampu hidup berdampingan dengan alam secara harmonis. Semoga tradisi yang penuh dengan makna ini dapat terus dilestarikan dan menjadi warisan yang berharga bagi generasi mendatang, sehingga kelimpahan alam tetap dapat dinikmati dan nilai-nilai budaya yang mulia tetap terjaga dengan baik.(*)




