
Domianus Ture Londa, putra asal pulau Rote Nusa Tenggara Timur, sukses di Norwegia dengan pendapatan per-tahun 2,1 milyar. (Foto: Dok. Pribadi DTL).
NORWEGIA | nemberalanews.com – Domianus Ture Londa, salah satu perwakilan diaspora Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kini menetap di Bergen, Norwegia, menyampaikan cerita perjalanan hidupnya melalui surat yang diterima redaksi nemberalanews.com pada Sabtu (29/2/2026).
Nama lengkapnya yang terdiri dari “Domianus” sebagai nama baptis, “Ture” sebagai nama marga yang mengingatkan pada kampung kelahiran, serta “Londa” yang berarti anak laki-laki lahir di musim kemarau panjang, sempat membuatnya merasa malu pada masa Sekolah Dasar karena sulit dieja. Namun kini, nama tersebut menjadi bukti bahwa orang dari ujung timur Indonesia mampu mencapai kawasan utara Eropa.
Setelah menyelesaikan pendidikan jurusan Perikanan di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Domianus bekerja sebagai staf lapangan di yayasan konservasi laut skala kecil di Pulau Rote. Dengan gaji awal hanya Rp 2,9 juta per bulan, ia menjalani hidup sederhana dengan menggunakan motor tua untuk mengunjungi berbagai desa pesisir. Kadang kala ia harus bermalam di poskamling ketika jalan rusak dan motor mogok pada musim hujan. Dari pengalaman tersebut, ia menyadari potensi sumber daya kelautan daerah yang besar, meskipun nelayan masih menghadapi berbagai tantangan.
Impian melanjutkan pendidikan ke luar negeri terasa jauh dari kenyataan, namun Domianus tetap berusaha belajar bahasa Inggris menggunakan telepon seluler lama. Ia bahkan harus pergi ke bukit dekat kontrakan untuk mendapatkan sinyal internet akses materi pembelajaran. Setelah melalui proses yang panjang, ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Universitas Tromsø pada tahun 2017. Saat menerima surat penerimaan, ia tidak bisa menahan air mata.
Berangkat dengan membawa tabungan Rp 4 juta dan beasiswa yang hanya cukup untuk kebutuhan dasar, Domianus menghadapi tantangan baru di kota yang termasuk salah satu yang paling mahal di wilayah utara Norwegia. Ia memenuhi kebutuhan hidup dengan bekerja paruh waktu sebagai asisten laboratorium dan tukang cuci piring di restoran Italia, dengan penghasilan setara Rp 25–30 juta per bulan. Ia tinggal di kamar kost berukuran 2×3 meter dan sering makan mie instan impor yang harganya empat kali lipat dari harga di Indonesia. Namun, ingatan pada orang tua yang belum pernah menikmati makanan semacam itu membuatnya tetap bersabar.
Setelah menyelesaikan pendidikan Strata Dua, Domianus mendapatkan pekerjaan sebagai peneliti muda di perusahaan riset kelautan di Bergen dengan penghasilan setara Rp 850 juta per tahun. Langkah pertama yang ia lakukan adalah menghubungi ibu di Rote untuk memberitahu rencana mengganti atap rumah yang bocor, sebuah momen yang membuat mereka berdua menangis. Saat ini, setelah empat tahun bekerja dan mendapatkan kenaikan jabatan, penghasilannya mencapai sekitar Rp 2,1 miliar per tahun. Namun, hal yang paling membuatnya bahagia bukanlah angka tersebut.
Domianus mengalokasikan 10 persen dari penghasilannya untuk membantu anak-anak di Rote dan sekitarnya yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi namun terkendala biaya. Ia memberikan akses internet, bimbingan daring melalui Zoom meskipun sinyal sering terputus, serta contoh nyata bahwa orang dari NTT mampu meraih kesuksesan di Eropa. Saat ini terdapat tujuh anak yang ia bimbing; yang pertama telah menyelesaikan Strata Dua di Belanda, yang kedua sedang studi di Jepang, dan satu anak dari Alor sedang menempuh pendidikan di Skotlandia dengan fokus bioteknologi kelautan.
“Kak Dom, saya dapat sampai di sini karena melihat perjuangan Kak sebelumnya,” ujar salah satu anak yang ia bimbing, seperti yang dikutip Domianus dalam suratnya. Ia selalu mengingat pesan almarhum ayahnya: “Dom, jika engkau pergi jauh, jangan lupa dari mana engkau berasal. Akar yang kuatlah yang membuat pohon dapat tetap berdiri dengan kokoh.”
Domianus Ture Londa adalah akademisi dan peneliti asal Pulau Rote yang kini berkarier di University of Bergen. Bidang keahliannya fokus pada ilmu sosial dan pembangunan, khususnya isu masyarakat maritim, kebudayaan, serta dinamika sosial NTT dalam konteks global. Melalui tulisannya, ia menjadi jembatan pemikiran akademis antara Indonesia dan Norwegia, sekaligus inspirasi bagi generasi muda Indonesia timur untuk meraih impiannya.(*)



