
paus pilot (Genus Globicephala) terdampar di pesisir Pantai Mbadokai, Dusun Lolama, Desa Fuafuni, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao,(Foto: Sergius Saul Tobuawen).
FUAFUNI | Nemberalanews.om – Sebanyak 50-an ekor paus pilot (Genus globicephala) terdampar di pesisir Pantai Mbadokai, Dusun Lolama, Desa Fuafuni, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 20 di antaranya ditemukan tidak bernyawa, paus pilot yang mati memiliki ukuran panjang antara 2,4 hingga 5,1 meter, pada Selasa (10/3/2026) sekitar pukul 06.30 WITA, setelah upaya penolongan dilakukan pada hari sebelumnya.
Danlanal Pulau Rote Letkol Laut (P) Lutfi Ardiansyah, S.T., M. Tr. Opsla menyampaikan kepada Nemberalanews.com bahwa pihaknya menerima laporan pertama terkait kemunculan paus pilot pada Senin (9/3/2026) sekitar pukul 15.30 WITA di perairan Batutua. “Kita bersama masyarakat berusaha mendorong semua individu ke arah perairan lebih dalam hingga malam pukul 24.00 WITA. Saat itu tidak ada yang mati,” jelas Lutfi di lokasi evakuasi bangkai paus pilot.
Menurut Lutfi, keesokan harinya pihaknya menerima informasi bahwa sebagian paus pilot kembali terdampar dan sebagian sudah tidak bernyawa. Tim sejumlah 20 personel segera dikerahkan untuk menangani situasi tersebut sesuai prosedur standar bekerjasama dengan Kepala Desa Fuafuni, Kapolsek Rote Barat Daya, dan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang wilayah kerja Rote Ndao.
Pihak Lanal juga berkoordinasi dengan pemerintah Rote Ndao dalam hal ini Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, SH., yang kemudian memberikan bantuan alat berat berupa ekskavator. Alat tersebut digunakan untuk mengubur bangkai paus pilot guna mencegah terjadinya polusi yang dapat memengaruhi kesehatan masyarakat sekitar.
Sementara itu, Respaty Yudha Putranto, Koordinator Wilayah Kerja Rote Ndao BKKPN Kupang, menjelaskan bahwa dugaan penyebab terdamparnya paus pilot berkaitan dengan kondisi cuaca ekstrem. “Di sektor selatan Rote Ndao terdapat bibit siklon, dan perubahan iklim ekstrem kemungkinan menjadi faktor utama. Selain itu, paus pilot yang memiliki daya jelajah jauh kemungkinan sedang melakukan migrasi dan beristirahat di perairan dangkal wilayah ini,” ucap Respaty.
Menurut dia, kasus serupa pernah terjadi di Kabupaten Sabu sekitar dua tahun lalu. Pada penanganan hari ini, pihaknya berhasil melepaskan sekitar 30 ekor paus pilot yang masih hidup dengan cara mengeluarkan individu pemimpin yang terdampar terlebih dahulu.
“Setelah leader dilepaskan, kelompoknya mengikuti ke arah laut lepas. Secara ekosistem, kehilangan sebagian individu ini tidak akan mengganggu keseimbangan karena populasi ikan mangsanya tetap terkontrol,” tambahnya.
Di sisi lain, warga setempat mengaku bahwa kejadian terdamparnya paus pilot bukan pertama kalinya. Peristiwa serupa pernah terjadi di Nusa Manu pada bulan Juni-Juli beberapa tahun lalu, dengan jumlah terdampar sebanyak satu ekor.
Inspektur Polisi Dua (Ipda) Subur Gunawan, SH., selaku Kapolsek Rote Barat Daya, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam evakuasi, mulai dari TNI Angkatan Laut, masyarakat nelayan, aparat desa, hingga pihak konservasi. “Harapannya paus yang sudah dilepaskan tidak kembali lagi dan dapat kembali ke habitatnya untuk berkembang biak dengan baik,” tandasnya Ipda Subur.
Selanjutnya, Kepala Desa Fuafuni Niteniel Pandie juga menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang diberikan. “Kita bersyukur yang masih hidup sudah bisa kembali ke laut. Semoga situasi segera kembali normal,” pungkasnya.(*)




