
Teater Dian Imanuel Nemberala menghadirkan dramatisasi Jalan Salib Anak Manusia yang penuh makna. Dalam salah satu etapenya, ketika beban salib menyiksa Yesus hingga tidak dapat melangkah, Simon dari Kirene datang membantu memikulnya, Dijaga ketat tentara Romawi dengan kostum emas merah dan helm yang membawa pedang, tombak dan tali cambuk. Di sisi jalan, salah satu pengikut-Nya kemungkinan Maria ibunda Yesus atau Maria Magdalena menangisi kesengsaraan Sang Juruselamat, sementara warga dari berbagai usia—baik anak kecil maupun orang dewasa—menyaksikan dengan penuh kesadaran dan wajah yang serius. (Foto: Sergius S. Tobuawen).
NEMBERALA | Nemberalanews.com – Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Jemaat Imanuel Nemberala, Desa Nemberala, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, bernaung dibawah Klasis Rote Barat memperingati Jumat Agung pada Jumat (3/4/2026).
Jumat Agung momen penting yang mengenang pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib ini diisi dengan refleksi diri, serta penghormatan terhadap kasih, pengorbanan, dan pengampunan yang diperjuangkan-Nya. Teater Dian dari GMIT Imanuel Nemberala bersama warga jemaat lakukan dramatisasi jalan salib.
Pantauan Nemberalanews.com dilapangan acara dibuka dengan kata “Shalom” yang disampaikan pemandu acara dan diikuti seluruh peserta hadir. Dengan tema “Kasih Tuhan Lebih Besar dari Rasa Sakitnya”, rangkaian pelayanan akbar ini menampilkan pentas dramatisasi serta pembacaan puisi yang mengiringi perjalanan Jalan Salib Anak Manusia. Prosesi yang berlangsung di bawah cuaca panas menempuh jarak kurang lebih 2 kilometer, dengan rute mulai dari Dusun Tuaneo menuju Dusun Nggause.
Sebelum dramatisasi dimulai, Camat Rote Barat Olens A.J. Ndoen, S.H., menyampaikan sambutan. Ia mengucapkan terima kasih kepada panitia dan menyatakan bahwa kegiatan yang sudah berlangsung bertahun-tahun ini diharapkan menjadi rutinitas tahunan. “Lewat ajang ini diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan dan menjadi momen pariwisata, mengingat ada tamu dari negara-negara tetangga yang menyaksikannya. Kegiatan ini juga mengingatkan kita untuk mencontoh ketaatan Yesus Kristus yang sampai mati di kayu salib,” ujarnya, sekaligus menekankan bahwa momen Jumat Agung ini adalah ibadah yang harus dijalankan dengan tertib.
Selanjutnya, Kapolsek Rote Barat IPDA Elyonat Deni Umbu Warata, S.H., memberikan arahan kamtibmas dalam pengamanan jalan salib. Ia menyatakan bahwa pengalaman menyaksikan kegiatan seperti ini adalah yang pertama kalinya dirasakannya. “Ini luar biasa, orang Rote Barat punya hati penuh kasih yang bisa meresapi pengorbanan Kristus dengan benar. Bulan Paskah di Rote Barat memang berbeda,” katanya. Ia juga mengimbau warga untuk menjadi polisi bagi diri sendiri, tidak segera pulang untuk melakukan aktivitas lain, dan benar-benar menikmati setiap momen dari kegiatan tersebut.
Kegiatan dramatisasi jalan salib kemudian dibuka oleh Ketua Majelis Klasis Rote Barat Pdt. Junaetrida Maahury, S.Th. Ia mengapresiasi jemaat GMIT Imanuel Nemberala karena kegiatan ini mampu menyentuh hati dan membawa semua orang merenungkan pengorbanan Kristus. “Selain mempererat persekutuan dan menguatkan spiritual, kegiatan ini juga menunjukkan kreativitas jemaat untuk mengungkapkan segala hal demi memuliakan Tuhan Yesus,” ucapnya sebelum membuka acara dan memimpin doa pembukaan.
Prosesi jalan salib diawali dengan narasi puisi perenungan yang disampaikan dan diikuti oleh pemeran drama dan ratusan warga yang ikut serta. Tim band mengiringi seluruh perjalanan dengan berbagai persembahan pujian. Setelah melalui serangkaian peragaan seperti penghianatan, di Jual dengan 30 keping perak, penyangkalan, perundingan ke Pilatus, dan Herodes, penyiksaan oleh tentara Romawi hingga penyaliban 2 orang penjahat bersama Yesus hingga wafat di kayu salib di bukit Golgota merupakan puncak dramatisasi.
Pdt. Yohanes Lolok, S.Th., selaku Ketua Klasis Rote Barat Laut, menutup kegiatan dengan menyampaikan bahwa Jumat Agung bukan tanda kekalahan melainkan kemenangan Yesus Kristus yang membebaskan umat dari dosa. “Jangan sampai perjalanan yang melelahkan ini hanya menjadi bentuk tanpa makna. Jadikanlah ini sebagai komitmen iman untuk tidak kembali kepada kehidupan lama,” pesannya. Ia juga mengajak agar kegiatan ini dapat ditularkan ke jemaat lain dan mengingatkan bahwa prosesi jalan salib bukan sekadar tontonan melainkan sarana refleksi diri dan ibadah.
Polce Ndun, selaku Ketua Panitia Perayaan Paskah dan Hari Ulang Tahun (HUT) GMIT Imanuel Nemberala Tahun 2026, menyampaikan bahwa persiapan untuk kegiatan dramatisasi jalan salib melalui Teater Dian telah berlangsung selama dua bulan penuh.
“Kami juga mengucapkan syukur khusus kepada Majelis Jemaat yang telah memberikan dukungan penuh agar program ini dapat terlaksana tahun ini,” ujarnya.
Kata Polce, hampir seluruh peserta yang tergabung dalam Band dan Lakon – yang berjumlah sekitar 100 orang – berasal dari Jemaat Imanuel Nemberala sendiri. Namun, panitia membuka peluang yang lebar bagi jemaat-jemaat tetangga untuk dapat terlibat secara aktif dalam kegiatan serupa ke depannya. “Kami sangat berharap jemaat tetangga juga mau melibatkan diri dan mengambil bagian dalam acara kami,” pungkas Polce Ndun.
Sisi lain, Puput Nalle, salah seorang warga dari Kabupaten Kupang yang mengikuti prosesi dari awal hingga akhir, menyampaikan kesan positifnya. “Prosesnya luar biasa dan menyenangkan, saya merasakan kebersamaan saudara yang luar biasa meskipun bukan jemaat di sini. Makna utama yang saya dapatkan adalah bahwa Tuhan Yesus selalu menyertai kita dalam setiap langkah,” ujarnya.
Kegiatan dihadiri oleh berbagai tokoh, antara lain Camat Rote Barat, Kapolsek Rote Barat, Ketua Majelis Klasis Rote Barat, Ketua Klasis Rote Barat Laut, Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GMIT Imanuel Nemberala, Penjabat Kepala Desa Nemberala, para tokoh agama, ketua panitia kegiatan, pemeran drama dari Teater Dian, serta jemaat dan tamu undangan sekitar 750 orang.(*)



