
Terlihat Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, bersama Gubernur NTT, Bupati, Wakil Bupati diatas perahu warga saat kembali tinjau budidaya rumput laut. Jumat, 22 Mei 2026, (Foto: Sergius S. Tobuawen).
DAIAMA | Nemberalanews.com – Di bawah langit Rote Timur yang sebagian tertutup mendung, Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, tiba di wilayah ini pada Jumat (22/5/2026) dalam rangka kunjungan kerja. Usai meninjau Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (KSIGN), di Desa Matasio dan Desa Serubeba (Kecamatan Rote Timur), serta Desa Daiama dan Desa Deurendale (Kecamatan Landu Leko) langkah Wapres dan rombongan berlanjut ke lokasi mulut seribu Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.
Pantauan media ini, di tengah hamparan laut yang menjadi sumber hidup warga, Gibran menyambangi langsung para petani rumput laut yang telah lama menggantungkan nasib dan kesejahteraan pada kekayaan laut selatan ini.
Kedatangan nomor dua di negara ini disambut hangat dan antusias oleh warga. Gibran tampak akrab menyapa sembari turun dari perahu, usai melihat langsung lokasi budidaya.
Ia didampingi Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, Komandan Korem (Danrem) 161/Wira Sakti Kupang, Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI Hendro Cahyono, Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, Wakil Bupati Apremoi Dudelusy Dethan, serta jajaran Forkopimda.
Pertemuan pun berlangsung di tenda yang didirikan di atas Dermaga Wisata Mulut Seribu, tempat para petani berkumpul dengan penuh harap, menanti kesempatan menyampaikan isi hati mereka langsung kepada pemimpin.
Suara lantang pertama kali terdengar saat seorang perwakilan berdiri mewakili 300 petani rumput laut Desa Daiama. Dengan nada hormat namun penuh ketulusan, ia merinci satu per satu kebutuhan yang menjadi penopang usaha mereka sehari-hari.
“Kami menyampaikan permohonan kepada Mas Gibran, Pak Gubernur, dan Pak Bupati. Yang pertama kami butuhkan tali nilon ukuran 8 milimeter, kedua tali nilon 2 milimeter, ketiga bibit rumput laut berkualitas, keempat sampan berbahan fiber, dan kelima mesin ketinting berkapasitas 0,5 GT,” ungkap perwakilan itu. Ia menambahkan, harapan besar ada di tangan Wapres agar belas kasihan dan perhatian negara hadir untuk membantu warga. Sebagai penutup, ia membacakan pantun khas anak nelayan, seolah merangkum segala doa dan harapan masyarakat pesisir yang hidup sederhana namun penuh kerja keras.
Mendengar aspirasi itu, Gibran merespons dengan saksama. Ia menegaskan bahwa kunjungannya ke Rote memang khusus ditujukan untuk melihat sektor andalan: garam dan rumput laut. Pengamatannya di lapangan menyisakan kesan mendalam tentang kekayaan alam yang luar biasa, namun sayangnya belum tergarap sepenuhnya.
“Potensinya luar biasa, tapi belum benar-benar dimaksimalkan,” ujar Gibran. Dia mencatat harga jual rumput laut saat ini sudah cukup baik, berkisar antara Rp17.000 hingga Rp20.000 per kilogram, dan pasar penyerapnya sudah jelas ada. Namun, ia juga melihat kenyataan bahwa cara kerja warga masih sangat tradisional.
“Ini yang perlu kita benahi ke depan. Butuh alat pengering yang memadai, gudang penyimpanan, hingga unit pengemasan atau pabrik packaging di sini,” tegasnya kepada Gubernur dan Bupati. Terkait permintaan warga soal tali nilon, mesin, dan sampan, ia berjanji akan diperhatikan, sementara untuk ketersediaan bibit, ia memastikan kondisinya masih aman dan sangat berkualitas.
Gibran sangat mengapresiasi kualitas rumput laut Rote. “Kandungan karaginannya di sini paling baik dibanding daerah lain. Keunggulan ini yang harus dipertahankan dan dibanggakan,” katanya.
Pembicaraan kemudian menyentuh tantangan nyata yang sering membebani petani: cuaca dan proses pengeringan. Warga menceritakan betapa beratnya bergantung pada alam. Jika cerah, pengeringan butuh 3–4 hari. Namun bila hujan turun, bisa sampai seminggu hasil panen belum kering sempurna, yang berisiko menurunkan mutu dan harga. Meski begitu, warga bersyukur harga masih bertahan baik.
Menilik lebih dalam soal ekonomi warga, Gibran bertanya soal biaya produksi. Diketahui modal dan ongkos kerja berkisar Rp2.000 hingga Rp3.300, sehingga dengan harga jual saat ini, keuntungan petani masih layak, namun tentu masih bisa ditingkatkan lagi.
Suara hati yang paling menyentuh justru datang dari kaum ibu, para pekerja keras yang sehari-hari turun ke laut merawat tanaman rumput laut. Dengan terbata-bata namun tegas, perwakilan ibu-ibu menyampaikan permohonan yang sederhana namun sangat mendasar bagi hidup mereka.
“Kami mohon bantuan dari Bapak Wakil Presiden untuk modal usaha kami. Yang kami butuhkan hanya tali, bibit, dan sampan. Itulah satu-satunya keluhan dan kebutuhan kami ibu-ibu,” ucapnya, menatap lurus wajah Wapres, seolah ingin menyampaikan betapa besar arti bantuan itu bagi masa depan keluarga mereka.
Gibran terlihat tersentuh mendengarnya. Ia kemudian menanyakan hal mendasar soal batas wilayah garapan, demi memastikan ketertiban dan keadilan. pemandu dialog menjelaskan, luas lahan potensial di sana mencapai 500 hektar, namun yang baru dimanfaatkan baru sekitar 50 hektar saja. Potensi yang menganga lebar ini memicu gagasan besar dari Wapres.
“Batas-batasnya harus jelas dan ada tandanya, jangan sampai ada yang saling merebut. Lahan ini masih sangat luas, belum terpakai semua. Kalau ada bantuan dari pusat, kita butuh penataan yang lebih rinci, tercatat rapi, dan merata agar semua warga kebagian,” kata Gibran.
Ia kembali menegaskan visi besarnya agar Rote tidak hanya sekadar menjadi pengekspor bahan mentah. “Kita ini salah satu produsen terbesar dunia, tapi jangan terus mengirim barang mentah. Harus ada hilirisasi, harus diolah di sini supaya nilainya naik,” ujarnya. Ia membayangkan masa depan cerah dengan bibit unggul, alat modern, hingga proses pasca panen yang rapi mulai dari pengeringan, penyortiran, hingga pengemasan, sehingga harga jual bisa melompat jauh lebih tinggi.
Namun, di balik harapan besar itu, ada kekhawatiran warga terkait ketidakpastian harga. Bupati Paulus Henuk ikut bersuara mengungkap fakta pahit: dulu sekitar tahun 2008 atau 5–6 tahun lalu, harga pernah menyentuh angka Rp32.000 hingga Rp30.000, namun kini turun hingga 60 persen karena permainan harga pedagang.
Gibran mengangguk mengerti. “Keselamatan dan kesejahteraan petani, terutama ibu-ibu yang bekerja keras ini, harus jadi prioritas utama. Kita pastikan mereka tidak dirugikan,” janjinya.
Di penghujung pertemuan hangat itu, tergambar jelas pesan utama: laut Rote menyimpan kekayaan tak terhitung, dan rakyatnya penuh semangat bekerja. Kini, harapan itu tertancap kuat: dengan bantuan, penataan, dan pengolahan yang tepat, rumput laut bukan lagi sekadar tanaman laut, melainkan jembatan emas yang mengangkat derajat dan kesejahteraan seluruh warga Desa Daiama, Kabupaten Rote Ndao.(*)





