Motor trail kesayangannya almarhum MG yang ikut dimasukkan ke dalam liang lahat, saat prosesi pemakaman almarhum MG pada Kamis 17 April 2025 lalu. (Foto: Facebook/istimewa)
Baru-baru ini publik Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur digemparkan oleh prosesi pemakaman remaja berinisial MG (17), warga Desa Oenitas, Kecamatan Rote Barat yang pada Kamis 17 April 2025 dimakamkan bersama motor trail kesayangannya.
Prosesi pemakaman anak lelaki satu-satunya ini menjadi sorotan publik di media sosial dan memunculkan perdebatan warganet Rote Ndao terkait motivasi keluarga almarhum memakamkan MG bersama motor kesayangannya. Tidak hanya itu saja, prosesi pemakaman ini juga mendapat perhatian dari beberapa media nasional di tanah air.
Berbagai pendapat negatif muncul diantara warganet yang kontra karena dianggap tidak sesuai dengan iman Kristiani. Namun ada juga warganet yang bersimpati dan berempati terhadap dukacita mendalam yang sedang dijalani oleh keluarga almarhum MG.
Terlepas dari pro-kontra dalam masyarakat ini, mari kita menengok jauh ke belakang, dimana pemakaman seseorang yang meninggal dunia dengan menyertakan benda-benda atau barang-barang kesayangan adalah hal yang biasa dan wajar.
Menyertakan benda atau barang kesayangan untuk ikut dikuburkan bersama dengan jenasah orang yang meninggal bukan kali pertama terjadi di Pulau Rote. Bahkan hal ini sudah terjadi sejak masa prasejarah di Pulau Rote. Misalnya pada penghujung tahun 2019 lalu, ada sejumlah warga di salah satu desa di Dengka, yang saat sedang menggali sumur di pekarangan rumah mereka, pada kedalaman kurang lebih 1 meter dari permukaan tanah, mereka menemukan sejumlah potongan tulang manusia yang telah rapuh dan sepasang gelang lengan yang terbuat dari logam tembaga. Sebelumnya di tahun yang sama, temuan gelang lengan berbahan dasar logam perunggu juga terjadi di salah satu desa di Lole. Temuan gelang lengan berbahan logam ini kemudian dilaporkan kepada aparat desa setempat untuk kemudian ditindak lanjuti oleh dinas terkait di pemerintahan Rote Ndao.
Di Indonesia, para arkeolog yang melakukan penelitian terhadap situs-situs purbakala kerap menemukan kerangka manusia purba di dalam kubur-kubur prasejarah, dimana pada kerangka manusia tersebut juga ditemukan beragam perhiasan berupa manik-manik, kalung, anting dan gelang yang terbuat dari berbagai macam bahan. Berbagai temuan perhiasan ini oleh para arkeolog disebut dengan istilah “bekal kubur”. Ada pun bekal kubur ini terbuat dari bahan-bahan seperti tulang atau gigi taring hewan, tanah liat, batu permata dan ada juga yang terbuat dari logam seperti tembaga, perunggu, perak dan emas. Selain perhiasan ada juga bekal kubur berupa tombak, mata anak panah baik yang terbuat dari logam maupun batu mulia.
Hasil penelitian para ahli kepurbakalaan di Indonesia, menggambarkan bahwa pemberian bekal kubur tidak hanya berupa benda atau barang kesayangan semata, namun ada juga hewan peliharaan. Seperti yang kerap terjadi di Pulau Sumba hingga masa kini. Masyarakat adat Sumba yang masih sangat kental dengan tradisi megalitik-nya, kerap menyertakan satwa kesayangan si almarhum untuk dimakamkan bersama jenasah. Biasanya satwa yang disertakan dalam kubur itu adalah kuda kesayangan almarhum semasa hidupnya.
Sementara, Di Pulau Rote tradisi pemberian “bekal kubur” juga masih berlangsung hingga saat ini. Kita sering melihat bagaimana sanak saudara dan kerabat dekat dari orang yang meninggal kerap memberikan kain tenun terbaik yang mereka miliki untuk ikut dimasukkan ke dalam peti jenasah. Pemberian lain tenun terbaik ini, adalah pemberian yang tulus dan ikhlas tanpa ada motivasi apa pun dari kerabat yang memberi.
Jadi menyertakan “bekal kubur” bagi orang yang meninggal dunia, itu sesuatu yang biasa dan tidak perlu diperdebatkan motivasinya, lalu kemudian dikait-kaitkan dengan iman kepercayaan yang dianut oleh almarhum dan keluarga intinya. Tidak menutup kemungkinan pilihan untuk memasukkan motor kesayangan milik almarhum MG merupakan keputusan spontan dari orang tua almarhum. Bagaimana pun juga sebagai masyarakat yang beradab kita semua wajib menghormati dan menghargai keputusan yang diambil oleh orang tua dan keluarga almarhum MG.(*)




Turut Berduka Cita 🙏, 🙏
Turut Berdukacita.
Semua yg dilakukan bukan suatu pelanggaran. Ini rasa kasih sayang orgtua jdi kita tidak perluh mempertanyakan alasan knpa dimakamkan dengan motor.