Fredrik Killi, petani rumput laut di Desa Nemberala, Kecamatan Rote Barat, Kab. Rote Ndao, NTT tengah menjemur rumput lautnya diatas degu-degu. Perubahan iklim dan cuaca saat ini berdampak terhadap kehidupan para petani rumput laut di pesisir barat Pulau Rote, NTT.
SEDEOEN | Nemberalanews.com – Petani rumput laut meminta kepada Pemprov NTT dan Pemkab Rote Ndao segera turun tangan menstabilkan harga rumput laut di pasaran. Demikian disampaikan Musa Mbate, warga Dusun Leodik, Desa Sedeoen, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, NTT.
“Kami meminta Pak Gubernur dan Pak Bupati Rote Ndao memperhatikan kami para petani rumput laut. Saat ini harga rumput laut terus menurun, sedangkan harga bibit terus melonjak naik,” ungkap Musa Mbete saat ditemui Nemberalanews.com, Senin 19 Januari 2026.
Menurut Musa Mbete, para petani rumput laut di Kecamatan Rote Barat saat ini sangat membutuhkan bibit rumput laut dengan harga yang terjangkau.
“Setidaknya dengan harga yang terjangkau maka kami bisa terus bekerja. Bibit sangat sulit didapat, dan kalau pun ada, harganya sangat mahal. Terkadang kami harus berebut ke arah Mboeain untuk membeli, mahal sekalipun, terpaksa kami beli karena kami fokusnya ke bertani rumput laut, tidak bekerja lain,” kata Musa Mbate.
Musa menambahkan, saat ini para petani rumput laut dihadapkan pada badai, gelombang dan arus laut yang sangat kuat, dimana banyak rumput laut yang sudah diikat akhirnya terbawa arus sehingga mau tidak mau begitu musim badai usai mereka harus memulai lagi dari awal.
“Saya berharap pemerintah bisa membantu kami dalam menyiapkan bibit bagi kami. Apalagi, harga pasar rumput laut akhir-akhir ini sering turun, bahkan sudah pernah turun sampai angka Rp15.000 perkilo, tentunya ini sangat merugikan para petani,” pungkasnya(*)



