
Sekolah Dasar Negeri (SDN) Nuse (Foto: Warga Nuse)
NUSE | nemberalanews.com – Masyarakat Desa Nuse, Kecamatan Ndao Nuse, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyampaikan kekhawatiran yang mendalam terkait kualitas pendidikan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Nuse, Pulau Nuse. Kasus serius muncul ketika dua siswa tamatan sekolah dasar pada tahun 2023 yang melanjutkan pendidikan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus menghentikan studi karena tidak mampu membaca dan menulis.
Seorang warga Desa Nuse yang enggan mengungkapkan identitasnya kepada nemberalanews.com pada hari Sabtu (7/2/2026) mengungkapkan, “Kedua siswa tersebut merasa malu karena tidak bisa mengikuti pembelajaran di SMP akibat keterbatasan kemampuan membaca tulis, hingga akhirnya mereka kabur dari sekolah dan tidak mau melanjutkan pendidikan lagi.”
Peristiwa ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari masalah yang lebih luas di sekolah tersebut. Menurut keterangan warga tersebut, sebanyak 9 dari total 55 siswa yang masih aktif bersekolah juga belum mampu membaca dan menulis, dengan distribusi di berbagai tingkatan kelas: 2 orang di Kelas IV, 2 orang di Kelas VI, 2 orang di Kelas III, dan 3 orang di Kelas II.
Dari total 55 siswa yang bersekolah di SDN Nuse (dari Kelas I hingga VI), jumlah siswa per kelas adalah sebagai berikut: Kelas VI sebanyak 13 orang, Kelas V sebanyak 5 orang, Kelas IV sebanyak 12 orang, Kelas III sebanyak 10 orang, Kelas II sebanyak 8 orang, dan Kelas I sebanyak 7 orang.
Dalam hal tenaga pendidik, SDN Nuse memiliki total 7 guru yang terdiri dari 2 guru honorer, 3 guru Program Peningkatan Kualitas Pendidikan (P3K), dan 2 guru Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Di sisi lain, Pemerintah Kecamatan Ndao Nuse membenarkan adanya permasalahan tersebut. Menurut Pelaksana Jabatan Camat Ndao Nuse Plt. Jesri T. Nggadas, S.E., “Betul, karena guru-guru di sini hanya melakukan pembelajaran tatap muka dengan murid satu minggu hanya satu kali. Selain itu, kepala sekolah sampai saat ini belum pernah hadir. Akibatnya, murid dinyatakan lulus SD namun tidak bisa baca, sehingga ketika mereka ingin melanjutkan pendidikan merasa minder.” Informasi ini disampaikan camat melalui pesan kepadanya oleh Kepala Desa Nuse.
Plt. Camat juga menambahkan bahwa permasalahan putus sekolah di Nuse memiliki keterkaitan langsung dengan minimnya kehadiran guru untuk pembelajaran tatap muka. “Sampai sekarang di Nuse belum ada kepala sekolah yang bertugas secara tetap, dan guru-guru yang ditempatkan di sana hanya hadir satu minggu sekali saja,” jelasnya.
Warga Nuse, berharap pihak pemerintah dapat segera mengambil tindakan konkret. “Kami mengharapkan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, Paulus Henuk, SH., dan Alfred Saudila, A.Md., Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Rote Ndao untuk menyelidiki kondisi guru-guru di Pulau Nuse. Harapannya agar para guru dapat hadir secara teratur untuk mengajar, sehingga anak-anak bisa mendapatkan materi pembelajaran dengan baik dan memiliki kemampuan dasar membaca tulis seperti anak-anak di sekolah lain,” ujar warga tersebut.
Warga, juga menambahkan kekhawatiran terkait Ketidakhadiran kepala sekolah dan dewan guru, “Kasihan anak-anak jika setiap hari pergi ke sekolah namun tidak ada guru yang mengajar. Bagaimana mereka bisa mendapatkan ilmu pembelajaran dan mengembangkan kemampuan membaca tulis? Selain itu, kepala sekolah juga jarang hadir di sekolah.” (*)




