
Foto ini benar-benar menyentuh hati dan menjadi bukti nyata pengabdian luar biasa dari tenaga kesehatan, khususnya Bidan Selfin Erniyawati Lay dari PKM Ndao Nuse. Dalam kondisi yang sangat terbatas dan penuh tantangan, beliau tetap memegang erat botol infus agar aliran cairan tetap lancar, sementara sang ibu yang akan melahirkan harus berjuang turun dari perahu katinting yang mengapung berdampingan rakit gabus. Semangat juang ini didukung penuh oleh suami dan keluarga yang bahu-membahu mengevakuasi pasien menuju daratan di Pelabuhan Tongga-Mbueain, Perairan Rote Barat. (Foto: Dok. Keluarga pasien dan Nakes).
NDAO | Nemberalanews.com – Di garis terluar selatan Indonesia, di mana daratan Pulau Ndao berhadapan langsung dengan ganasnya Samudra Hindia, definisi pengabdian sering kali harus ditulis dengan keberanian luar biasa.
Demi memegang teguh moto Revolusi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) – “Datang 1, pulang 2. 3 pun boleh, asal jangan nol” – Bidan Selfin Erniyawati Lay, A.Md.Keb., rela mempertaruhkan nyawa menerjang gelombang tinggi.
Tindakan heroik ini dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah mengabdi selama tujuh tahun di Puskesmas (PKM) Ndao Nuse tersebut. Prinsip hidupnya sederhana namun menggetarkan hati: “Kalau negara telat, rakyat bertindak. Kalau ombak galak, kemanusiaan harus lebih galak.”
Kisah ini bermula pada Rabu, 23 April 2026, pukul 13.00 WITA. Pasien, Yohana Dama Rewa, warga Desa Ndao Nuse, Kecamatan Ndao Nuse, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur didatangkan oleh suami dan keluarga ke PKM Ndao Nuse dalam kondisi akan melahirkan.
“Kemajuan persalinan kami pantau ketat,” ungkap Selfin kepada Nemberalanews.com, Minggu (26/4/2026).
Pemantauan berlanjut hingga Kamis, 24 April 2026. Hasil pemeriksaan tim medis menunjukkan kondisi ibu memburuk dan memerlukan penanganan lebih lanjut di rumah sakit. Setelah berkolaborasi dengan dr. I Ketut Mulyawan dan melakukan konsultasi medis dengan tim dokter di RSUD Ba’a, keputusan bulat diambil: pasien harus segera dirujuk.
“Sudah di batas SOP Puskesmas. Tidak dirujuk, risiko gawat janin,” tegas Selfin dengan nada serius.
Pukul 12.00 WITA, tim bidan, pasien, dan keluarga bergegas menuju pantai dengan harapan segera menyeberang. Namun, alam memberikan ujian berat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan potensi gelombang tinggi. Di hadapan mereka, lautan tampak murka. Ombak bergulung tanpa henti menghantam bibir pantai berpasir putih di pulau itu, membuat penyeberangan menggunakan kapal reguler menjadi mustahil karena tidak ada jadwal operasi sama sekali.
“Di antara pasir putih dan gulungan ombak yang hantam bibir pantai tanpa jeda, saya harus putuskan cepat. Keselamatan ibu, tim, dan keluarga jadi taruhan,” kenang Selfin.
Melihat kondisi yang terlalu berbahaya, rujukan terpaksa ditunda. Pasien dibawa kembali ke Puskesmas untuk dipantau kondisinya sambil menunggu cuaca bersahabat.
Kesabaran akhirnya terbayar. Pada Jumat pagi, 25 April 2026, pukul 04.30 WITA, telepon berdering. Kabar datang bahwa ombak mulai sedikit mereda dan perahu kecil (katinting) sudah bisa diajak kompromi. Tanpa membuang waktu, pukul 05.30 WITA, rombongan berangkat dari Puskesmas menuju pantai timur Pulau Ndao menggunakan kendaraan roda tiga.
Pukul 06.00 WITA, perahu motor kecil atau katinting mulai membelah lautan. Ini adalah satu-satunya harapan. Selama dua jam penuh, mereka dihajar oleh hempasan gelombang yang tinggi disertai rintik hujan deras. Tubuh mereka basah kuyup, namun fokus hanya satu: keselamatan nyawa di dalam kandungan.
Perjalanan yang penuh drama belum selesai. Pukul 07.30 WITA, saat mendekati daratan tujuan di Wilayah Barat Pulau Rote, tepatnya Pelabuhan Rakyat Tongga, Desa Mbueain, perahu kandas. Air laut sedang surut, membuat kapal tidak bisa mendekat sempurna.
“Kami evakuasi pasien pakai gabus sampai ke darat pukul 08.00,” tutur Selfin menceritakan detik-detik kritis tersebut.
Sesampainya di daratan, mereka sempat berteduh di lopo-lopo (gubuk kecil) pinggir pantai. Sambil mengganti pakaian yang basah karena air laut dan hujan, Bidan Selfi tidak henti bekerja. Ia terus memantau Detak Jantung Janin (DJJ) dan kondisi vital ibu.
“Cemas itu racun buat ibu hamil. Saya harus bikin mereka tenang,” ucapnya memberikan dukungan moril kepada pasien dan keluarga yang tampak gelisah.
Setelah kondisi cukup stabil, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat. Pukul 08.30 WITA mereka meninggalkan pelabuhan, dan tepat pukul 10.00 WITA, rombongan tiba dengan selamat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Ba’a. Pasien langsung ditangani oleh tim triase sesuai prosedur medis.
Keselamatan ibu dan bayi menjadi akhir bahagia dari perjalanan yang menguras tenaga dan emosi itu. “Sebagai bidan di pulau terluar, saya sangat bersyukur Tuhan tolong. Semangat suami dan keluarga juga luar biasa,” ucap Selfin penuh syukur.
Namun, di balik keberhasilan ini, ada pesan mendalam yang ingin disampaikannya. Ia mengimbau seluruh ibu hamil untuk selalu memeriksakan kandungan secara rutin sejak dini, dan menekankan peran aktif suami untuk selalu mendampingi.
Lebih dari itu, ia memohon perhatian serius dari pemerintah. “Kami mohon, pemerintah bantu kami. Nakes di Ndao terbatas. Transportasi rujukan laut-darat juga. Jangan sampai nyawa taruhan nekat terus,” pintanya.
Hal senada disampaikan oleh Yosua Radja, suami pasien, yang tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bangga. “Pelayanan PKM Ndao luar biasa. Antar kami sampai RSUD Ba’a di cuaca ekstrem. Istri dan anak saya selamat. Saya sangat mengapresiasi untuk para nakes,” katanya.
Namun, Yosua juga menyoroti kesulitan ekonomi yang dihadapi masyarakat kepulauan. “BPJS tanggung berobat, tapi rujukan ke Ba’a? Apalagi cuaca ekstrem, biaya transport laut mahal sekali. Kami harus pinjam sana-sini. Padahal APBD Kesehatan besar. Coba siapkan ambulans laut untuk kami. Itu sangat amat membantu,” ungkapnya.
Hari ini, ombak berhasil mereka kalahkan. Keberanian dan kemanusiaan telah menang. Namun, satu pertanyaan besar terus menggantung di angkasa Pulau Ndao: sampai kapan tindakan “nekat” harus menjadi satu-satunya ambulans resmi bagi masyarakat yang membutuhkan?(*)




