
Lomba Paduan Suara Gerejani Se-kabupaten Rote Ndao menyongsong HUT ke-66 Jemaat Imanuel Nemberala.Terlihat pemenang Juara (1) GMIT Mengelama Ba'a, bersama Ketua Majelis Jemaat GMIT Imanuel Nemberala Pdt. Sukeni Anace, S.Th., bagian depan, samping kiri kanan belakang juara 2 dan 3, beserta Juara Harapan I, II, III. (Foto: Medan Lette).
NEMBERALA | NemberalaNews.com – Suara lantunan nyanyian pujian bergema di gedung Gereja Imanuel Nemberala, Desa Nemberala, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Selasa, 2 Juni 2026. Mulai pukul 15.00 hingga 21.45 waktu setempat, bangunan gereja yang bernaung di bawah naungan Majelis Klasis Rote Barat ini menjadi pusat perhatian umat se-kabupaten. Sebanyak sembilan peserta paduan suara berkumpul untuk mengikuti Lomba Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) 2026, kegiatan besar yang digelar dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Jemaat Imanuel Nemberala yang jatuh pada Kamis, 11 Juni 2026.
Persiapan kegiatan ini telah dilakukan secara matang oleh panitia khusus yang dibentuk jemaat, dengan Polce Ndun menjabat sebagai ketua dan Pnt. Yoseph Ndoloe, S.Pd. sebagai koordinator seksi lomba. Dalam laporan yang dibacakan wakil ketua panitia, Markus Mboroh, menyampaikan rasa syukur mendalam atas terselenggaranya acara. “Terima kasih setulus-tulusnya kami sampaikan kepada Majelis Jemaat, seluruh peserta, dewan juri, donatur, sponsor, pihak keamanan, pemerintah daerah, dan semua pihak yang memberi dukungan, doa, dan partisipasi. Berkat semua itu, kegiatan ini berjalan dengan baik,” ujar Markus pada penutup laporan panitia.
Peserta yang diundang merupakan jemaat-jemaat yang bernaung di bawah Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) se-Kabupaten Rote Ndao. Dari pendaftaran yang dibuka, tercatat sembilan jemaat yang bersedia berkompetisi, yakni: Gereja Ebenhaezer Sedeoen, Gereja Elim Mbaoen, Gereja Silo Olafuliha’a, Gereja Elim Mondo, Gereja Paulus Busalangga, Gereja Mengelama Ba’a, Gereja Betania Ba’a, tuan rumah Jemaat Imanuel Nemberala, serta Gereja Sola Gracia Alukama. Masing-masing peserta telah mendapatkan nomor undian sebagai urutan tampil.
Untuk menjamin penilaian yang adil dan berkualitas, panitia menunjuk tim juri yang memiliki kompetensi di bidang musik dan vokal. Mereka adalah Pendeta Yakob L. Kapitan, S.Th., M.Sn. yang bertindak selaku ketua merangkap anggota, didampingi Dina W. O. Lake, S.Pd., dan Heidris Donaldo Liha, S.E. Jalannya lomba pun berlangsung tertib dan lancar, dipandu oleh tiga orang pembawa acara yang mengatur pergantian penampilan dengan rapi.
Suasana kompetisi terasa sangat ketat saat setiap kelompok menampilkan suara emas dan harmoni terbaik mereka. Namun, setelah melalui penilaian mendalam, dewan juri memutuskan tiga peserta harus turun dari panggung, yaitu nomor undian 01 (GMIT Ebenhaezer Sedeoen), nomor 02 (GMIT Elim Mbaoen), dan nomor 03 (Gereja Silo Olafuliha’a). Enam peserta lainnya berhak melaju penentuan peraih juara dan berhak memperebutkan hadiah uang tunai yang disiapkan panitia.
Hasil akhir penilaian menetapkan GMIT Mengelama Ba’a dengan nomor undian 06 keluar sebagai Juara I Umum sekaligus membawa pulang hadiah Rp10 juta. Posisi kedua ditempati tuan rumah, GMIT Imanuel Nemberala (nomor 08), dan Juara III jatuh kepada GMIT Sola Gracia Alukama (nomor 09). Sementara itu, kategori juara harapan dimenangkan oleh GMIT Paulus Busalangga (Harapan I, Rp5,5 juta), GMIT Betania Ba’a (Harapan II, Rp4 juta), dan GMIT Elim Mondo (Harapan III, Rp3 juta).
Pendeta Sukeni Anace, S.Th., selaku Ketua Majelis Jemaat GMIT Imanuel Nemberala, menyebut kegiatan ini berjalan jauh di luar dugaan. Kepada awak media, Rabu, 3 Juni 2026, ia mengaku bersyukur karena acara yang baru dibangkitkan kembali ini mendapat sambutan hangat. “Tuhan terlalu baik bagi kita. Walaupun hanya ada sembilan peserta, kualitas penampilan kemarin luar biasa. Banyak yang berkomentar, ini bukan sekadar lomba tingkat kampung, tapi setara dengan ajang tingkat provinsi. Namun, kami tidak ingin merasa bangga,” ujarnya dengan rendah hati.
Bagi Sukeni, makna lomba ini melampaui sekadar kompetisi vokal. Kegiatan ini menjadi sarana mempererat persaudaraan antar jemaat GMIT di wilayah Rote Ndao. Ke depannya, ia berharap lebih banyak gereja bersedia berpartisipasi. “Tujuan utama kami adalah memuji Tuhan. Bagi kami, yang paling berharga adalah setiap peserta bernyanyi dengan hati dan jiwa, memuliakan Tuhan dalam roh dan kebenaran. Itulah inti dari semua yang kami lakukan,” tegasnya.
Lomba Pesta Paduan Suara Gerejawi 2026, ini menjadi bukti nyata bahwa semangat persaudaraan dan pujian mampu menyatukan umat dalam satu perayaan yang indah, khidmat, dan penuh berkat, semuanya persembahan, hormat dan kepujian bagi nama Tuhan. (*)





