
Simulasi evakuasi korban tentang kesiap siaga bencana di Desa Benu, Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang, Rabu, (22/4/2026. (Foto: Dok. CIS Timor).
BENU | Nemberalanews.com – Desa Benu, Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu dari enam wilayah prioritas yang mendapatkan pendampingan intensif dari CIS Timor dalam upaya penguatan sistem kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat. Program strategis ini didukung penuh oleh SIAP SIAGA NTT, dengan tujuan menjadikan desa sebagai garda terdepan dalam pengurangan risiko bencana.
Lima desa lainnya yang turut tergabung dalam program dampingan ini tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Kupang, meliputi: Desa Tuapanaf (Kecamatan Takari), Desa Nunkurus dan Oefafi (Kecamatan Kupang Timur), serta Desa Sumlili dan Tablolong (Kecamatan Kupang Barat).
Berdasarkan Rencana Kontingensi yang telah disusun secara partisipatif, Desa Benu mengidentifikasi beragam potensi ancaman yang kerap terjadi. Banjir menempati urutan teratas sebagai bencana yang paling sering melanda, diikuti oleh ancaman kekeringan, tanah longsor, gagal panen, rabies, penyakit ternak, gempa bumi, serta masalah kesehatan seperti malaria dan demam berdarah.
Menurut Project Manager CIS, Seprianto Ridwan Pelokila, upaya penguatan kapasitas di tingkat desa ini bukan sekadar kegiatan lokal, melainkan implementasi nyata dari mandat kebijakan nasional.
“Penguatan kesiapsiagaan desa merupakan mandat kebijakan nasional yang menempatkan desa sebagai garda terdepan dalam pengurangan risiko bencana,” tegas Seprianto kepada Nemberalanews.com, Kamis, (23/4/2026)
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kupang mencatat bahwa dari total 176 desa dan kelurahan yang ada, baru 38 desa yang berhasil mencapai status Desa Tangguh Bencana (Destana) tingkat Pratama. Kondisi ini menegaskan bahwa penguatan kapasitas desa menjadi langkah strategis yang sangat mendesak untuk diperluas.
Melalui pendampingan yang dilakukan, keenam desa dampingan telah menyusun dokumen perencanaan, membangun sistem peringatan dini, serta memperkuat koordinasi antar pemangku kepentingan. Salah satu keunggulan sistem yang diterapkan adalah integrasi antara pemantauan indikator alam lokal dengan data resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Dalam sistem yang dibangun, perubahan indikator lingkungan seperti peningkatan debit air, perubahan warna air, hingga tanda-tanda alam lainnya menjadi dasar bagi tim desa untuk memberikan rekomendasi status situasi kepada Kepala Desa, mulai dari Waspada, Siaga, hingga Awas,” jelas Seprianto.
Masyarakat kini dilatih untuk bertindak cepat sejak tahap dini. Pada status Siaga, warga sudah terbiasa menyiapkan dokumen penting, mengevakuasi ternak dan aset penghidupan, serta mempersiapkan tas siaga bencana sebelum evakuasi penuh dilakukan saat status meningkat menjadi Awas.
“Ketika desa mengeluarkan status siaga maka dengan sendirinya masyarakat sudah tahu apa yang dilakukan, antara lain menyiapkan tas siaga dan evakuasi aset-aset ke tempat yang tinggi,” ujarnya. Pada Rabu, (22/4/2026) di lokasi evakuasi dan jalur penyelamatan pun telah ditentukan jauh hari melalui kajian risiko bersama warga.
Pendekatan berbasis komunitas ini memastikan masyarakat bukan hanya objek, melainkan pelaku utama yang berperan aktif dalam pengambilan keputusan.
Kegiatan gladi lapangan yang baru saja dilaksanakan di Desa Benu menjadi bukti nyata kesiapan sistem yang telah dibangun. Kehadiran langsung Wakil Bupati Kupang yang turut serta dalam simulasi memperlihatkan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah dan masyarakat.
Desa Benu diharapkan tidak hanya semakin siap menghadapi potensi banjir, tetapi juga menjadi contoh praktik baik (best practice) bagi wilayah lain. Upaya bersama ini menjadi langkah konkret menuju terwujudnya Kabupaten Kupang yang semakin tangguh dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.(*)




