
Sekolah Dasar Negeri (SDN) Nuse (Foto: Warga Nuse)
NUSE | nemberalanews.com – Pulau Nuse di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi permasalahan krusial dalam dunia pendidikan, di mana terdapat 2 pelajar kesulitan membaca dan menulis, merasa minder bahkan keluar dari sekolah untuk tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kondisi ini diperparah oleh berbagai faktor terkait fasilitas penunjang pendidikan yang belum memadai. Kualitas sistem pendidikan di pulau ini masih jauh dari harapan, dengan tantangan besar dalam penyediaan listrik, air bersih, jaringan internet, serta kondisi fasilitas rumah guru yang menjadi faktor utama kesulitan mendapatkan dan mempertahankan tenaga pendidik. Hal ini berdampak signifikan pada akses dan kualitas pendidikan anak-anak sebagai generasi penerus Nuse dan Rote Ndao.
Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Nuse, Benyamin Y. Beda, S.Pd.,Gr., menyampaikan hal itu melalui sambungan telefon kepada nemberalanews.com, Sabtu, (7/2/2025), dirinya memberikan klarifikasi terkait informasi yang menyatakan bahwa ia tidak masuk sekolah. “Pada tanggal 12 Januari 2026, ia bersama bendahara sekolah sedang menyelesaikan administrasi Laporan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Tahun 2025 yang telah selesai dan dikumpulkan pada bulan lalu”, ujar Benyamin
Selain itu, mulai tanggal 9 Februari (Senin) nanti, ia telah menerima informasi untuk mengisi Arsip Keuangan dan Aset Sekolah (ARKAS) serta menyusun rancangan anggaran tahun 2026, yang kemudian diunduh dan diproses.
“Kadang faktor cuaca menjadi kendala yang membuat saya harus menyesuaikan waktu kehadiran di sekolah karena harus pergi ke Rote untuk dapat listrik dan jaringan internet. Supaya bisa mengakses dan menyelesaikan kegiatan terkait Program Kegiatan Anggaran (PKA), data sekolah lainnya”, jelasnya.
Benyamin, Selain fokus pada penyelesaian laporan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2025 dan persiapan rancangan anggaran Dana BOS tahun 2026, Benyamin juga menangani beberapa kegiatan penting lainnya yang menjadi prioritas bagi sekolah.
Pertama, perlu dilakukan perpanjangan ijin operasional sekolah yang masa berlakunya akan habis pada tanggal 9 Februari 2026. Proses ini menjadi krusial karena ijin operasional merupakan syarat mutlak bagi kelangsungan aktivitas belajar-mengajar di sekolah.
Kedua, persiapan untuk pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa kelas 6 jenjang Sekolah Dasar (SD) tahun 2026. Tahapan pelaksanaan TKA telah ditetapkan secara resmi sebagai berikut: Kesatu, Pendaftaran: 19 Januari – 28 Februari 2026, Kedua, Simulasi: 2 – 8 Maret 2026, Ketiga Gladi Bersih: 9 – 17 Maret 2026, Keempat, Pelaksanaan Utama: 20 – 30 April 2026, Kelima, Pelaksanaan Susulan: 11 – 19 Mei 2026, Keenam, Pengolahan Hasil: 20 – 24 Mei 2026, Ketujuh, Pengumuman Hasil: 26 Mei 2026.
Semua pekerjaan tersebut dilaksanakan di daratan Pulau Rote. Hal ini disebabkan karena seluruh proses memerlukan akses sumber listrik yang stabil dan jaringan internet yang memadai, mengingat pengolahan data sekolah serta data siswa dilakukan melalui sistem online.
Benyamin menaruh sejumlah harapan dan permintaan khusus yang diharapkan mendapatkan perhatian dan bertemu langsung dengan Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, SH., dengan keluhan penting: Pertama, Penyediaan pasokan listrik yang stabil untuk mendukung kegiatan belajar mengajar dan administrasi sekolah. Kedua, Jaringan internet yang baik agar proses pembelajaran dan akses informasi bisa berjalan dengan lancar.
Ketiga, Penambahan dua orang tenaga guru kelas untuk mengisi kekosongan yang telah ada sejak Oktober tahun lalu, dan Keempat, Penambahan tenaga operator administrasi untuk membantu pekerjaan terkait administrasi sekolah.
Selain itu, Benyamin menyampaikan bahwa sekolah juga menghadapi kendala sumber air bersih untuk keperluan minum. “Di Pulau Nuse, sumber air minum sangat sulit didapatkan, sehingga terkadang kami harus membawa air dari pulau seberang, yaitu Pulau Rote,” tambahnya.
Salah satu poin penting yang disampaikan adalah kondisi fasilitas rumah guru (mes guru) yang sudah rusak dan memprihatinkan. “Saya khawatir jika nantinya ada penambahan guru dari luar Pulau Nuse, mereka tidak akan mendapatkan tempat tinggal yang layak karena kondisi mes guru saat ini sangat kurang baik. Kiranya hal ini juga bisa mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah Kabupaten Rote Ndao,” pungkas Benyamin dengan harapan semua keluhan dan permintaan bisa segera ditindaklanjuti.(*)




