
Warga Desa Bo'a Dihadang Kepolisian Polres Rote Ndao dan Satuan Polisi Pamong Praja, Saat warga hendak ketemu Bupati tagih janji akses jalan menuju pantai wisata Oemau, Senin, 13/4/2025 (Foto: Sergius S. Tobuawen).
BA’A | Nemberalanews.com – Suasana di halaman Kantor Bupati Rote Ndao memanas. Massa yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Pesisir (GEMAP) melakukan pertemuan dengan Bupati Paulus Henuk, S.H. Aksi damai yang bertujuan menuntut pembukaan akses jalan menuju Pantai Wisata Oemau, Desa Bo’a, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur ini berakhir dengan kekecewaan.
Pantauan media ini, massa berkumpul tepat di depan pintu masuk utama dengan satu tujuan jelas menagih janji.
“Kami hadir untuk menagih komitmen Bapak Bupati sejak tanggal 12 Oktober 2025. Hingga hari ini, janji untuk membuka akses jalan belum terealisasi. Bupati dan Wakil Bupati harus keluar dan temui kami langsung,” tegas Mersi Hangge, Koordinator Aksi, di tengah barisan massa.
Selama kurang lebih 45 menit, masyarakat berdiri di bawah terik matahari menanti kepala daerah muncul. Namun, harapan itu pupus. Tidak ada satu pun wakil dari eksekutif yang hadir menyambut aspirasi tersebut.
Melihat situasi yang buntu, massa memutuskan bergerak maju menuju ruang kerja pejabat. Namun, langkah mereka dihadang secara fisik oleh personel Polres Rote Ndao dan Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP).
“Sampaikan kepada Bapak Bupati bahwa kami masyarakat ingin bertemu!” seru Abson Mbatu, tokoh masyarakat Desa Bo’a, dengan nada tinggi kepada aparat yang berjaga.
Setelah melalui negosiasi dengan Petson Soleman Hangge, S.Sos., Asisten I Sekretaris Daerah Kabupaten Rote Ndao, turun memberikan kabar. “Bupati hanya bersedia menerima 5 orang perwakilan untuk masuk ke ruangan”, pesan bupati kata Petson.
Tawaran ini ditolak mentah-mentah. “Kami ingin bertemu secara terbuka dan bersama-sama. Bupati adalah pelayan masyarakat, seharusnya tidak sungkan menerima kami semua,” ujar massa serentak.
Ketegangan memuncak ketika massa berusaha menerobos penghadangan. Di tengah situasi yang ricuh, perhatian massa tertuju pada sebuah mobil dinas yang melintas cepat keluar dari area kantor.
“Bupati dan Wakil Bupati kabur!” teriak salah satu massa.
Insiden ini memicu kemarahan yang meledak. Di hadapan awak media dan ratusan warga, mereka menyatakan sikap yang sangat keras dan memalukan bagi pemerintahan.
“Masyarakat Bo’a datang menuntut hak-hak kita, tapi Bupati lari. Dia lari tidak mau ketemu!”
Ucapan itu bergema keras, menjadi simbol kegagalan komunikasi dan hilangnya kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya di Kabupaten Rote Ndao.(*)





