
Tim peneliti BRIN yang terdiri atas Prof.Dr. Gati Gayatri M.A., Desmiwati dan Widya berpose bersama saat mengunjungi kediaman Yuliana Biredoko di Uma Paohuk, Kola, Desa Nggodimeda, Sabtu (29/11/2025). Di Uma Paohuk, tim peneliti menggali banyak informasi terkait keterlibatan perempuan dalam masyarakat adat di Termanu. (Foto: Daniel Mauk)
BA’A | Nemberalanews.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berencana melakukan penelitian etnografi klasik terkait masyarakat adat yang ada di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Penelitian ini akan dilakukan secara komprehensif guna memperoleh data termutakhir terkait masyarakat adat yang terletak di kabupaten terselatan Indonesia.
Hal ini diungkapkan Desmiwati salah seorang anggota tim peneliti BRIN yang diakhir November kemarin melakukan survei awal di beberapa kecamatan di Kabupaten Rote Ndao. Menurutnya penelitian etnografi klasik ini nantinya akan menghasilkan beberapa rekomendasi yang akan disampaikan kepada pemerintah pusat dan daerah, khususnya terkait dengan kebijakan nasional.
Baca Juga: BRIN Jajaki Penelitian Masyarakat Adat di Rote Ndao
“Penelitian ini akan mendokumentasikan banyak hal yang lebih update dari Rote, mengingat dokumentasi lengkap tentang masyarakat adat Rote dilakukan terakhir kali Prof. James J. Fox pada rentang waktu 1965 hingga 1980-an,” terang Desmiwati saat ditemui Nemberalanews.com, Minggu (30/11/2025) pagi.
Ia menambahkan bahwa tidak sedikit persoalan kontemporer masyarakat Rote, terkait perkembangan, perubahan dari waktu ke waktu yang belum tercatat dengan baik. “Kelak, jika sudah dipublikasi maka data ini boleh diakses oleh siapa pun,” paparnya.
Senada dengan itu, Prof. Dr. Gati Gayatri M.A., Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN menambahkan bahwa hasil penelitian ini nantinya akan diseminarkan di masyarakat. Ini wajib dilakukan sebagai bagian dari bentuk pertanggungjawaban publik sekaligus pertanggungjawaban moral dari para peneliti.
“Menjadi satu tanggungjawab kita, para peneliti untuk mengembalikan pengetahuan yang kita serap dari masyarakat, yang mana dari data atau pengetahuan yang dikumpulkan tersebut akan kita kembalikan lagi kepada masyarakat dalam bentuk dokumentasi publik agar masyarakat adat dapat kembali mengenali kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun,” ungkap Gati Gayatri.
Ia menyontohkan pengetahuan masyarakat adat Rote Ndao tentang kain tenun, dimana saat ini tidak sedikit warga yang berprofesi sebagai penenun dan pedagang kain tenun yang tidak memahami makna dan simbol dari motif tenun, “contohnya soal kain tenun, saat ini yang kita lihat literasi masyarakat tentang kain tenun seperti nama motif, maknanya sudah hilang, nah dari hasil penelitian ini, masyarakat nantinya dapat mengakses kembali pengetahuan mereka.” terang Gati Gayatri.
Ia menambahkan bahwa para peneliti BRIN ini nantinya akan menetap dalam jangka waktu tertentu di Rote. “Ini dilakukan agar akar masalah-masalah sosial budaya dapat terpetakan dengan baik, termasuk dalam mencari solusi bersama yang berbasiskan pada akar masalah, untuk mencapai titik tersebut maka dibutuhkan dedikasi dan integritas peneliti dengan baik.” pungkasnya.
Dalam kegiatan penelitian ini, BRIN juga akan melibatkan dan mengikutsertakan mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Universitas Nusa Cendana (Undana) dan tidak menutup kemungkinan juga melibatkan kampus-kampus lainnya.(*)




