OELUA | Nemberalanews.com – Diduga mengalami depresi, seorang remaja berinisial ROPL (18), Warga Dusun Oedai, Desa Oelua, Kecamatan Loaholu, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, nekad mengakhiri hidupnya dengan seutas tali nilon. Korban ditemukan di rumah Maria Magdalena Nullek. Dari hasil olah TKP ditemukan tali nilon berwarna biru berdiameter 6 mm dengan panjang tali ± 2 Meter. Saat ditemukan tali nilon dalam keadaan tersimpul pada balok kayu tempat korban ditemukan.
Korban ditemukan dalam posisi tergantung pada Senin 5 Mei 2025 sekitar pukul 17.00 WITA, saat itu saksi Densi S. Lenggu, mengunjungi rumah Maria Magdalena Nullek dengan tujuan untuk mengambil beras. Ketika ia masuk ke dalam gudang penyimpanan, ia menemukan korban sudah dalam keadaan tergantung. Ia pun berteriak minta tolong.
Mendengar ada teriakan minta tolong tersebut, saksi Andriesto Lenggu bersama Willy Mafo dan Juanda Mafo langsung masuk ke dalam rumah tempat korban pertama kali ditemukan oleh saksi Densi Lenggu. Kemudian para saksi memotong tali yang terlilit di leher korban dan bersama warga lainnya mereka melarikan korban ke Puskesmas Oelaba.
Setibanya di Puskesmas Oelaba, petugas medis pun melakukan observasi atas tubuh korban dan kemudian dinyatakan bahwa korban telah meninggal dunia. Berdasarkan observasi tersebut petugas medis menyatakan bahwa tubuh korban dalam keadaan kaku mayat dengan kondisi mulut dalam keadaan terbuka, terdapat bekas lilitan tali pada leher korban. Selain itu ditemukan juga luka sayatan pada kedua tangan, terdapat luka pada punggung dan jari tengah kaki kanan. Keluarga korban menolak untuk dilakukan Visum et Repertum (VER) dan tindakan medis lainnya.
Berdasarkan informasi dari saksi Merlin Tungga, sebelumnya pada tanggal 29 April 2025, Ia sempat bertemu dengan korban di tempat pemandian di Dusun Noas, Desa Temas Kecamatan Rote Barat Laut. Ketika itu saksi Merlin Tungga sempat melihat terdapat luka sayatan pada lengan korban dan pada punggung korban. Kepada saksi, ia berencana akan merantau ke Bali mencari kerja dan enggan untuk bersekolah kembali karena tunggakan tugas sekolah yang belum Ia selesaikan. Kepada Merlin Tungga, korban sempat menceritakan rasa kecewanya karena dijanjikan akan dibelikan motor namun selalu dihalang-halangi oleh paman korban, dengan alasan akan disalahgunakan kendaraan tersebut.
Sementara Kapolsek Rote Barat Laut, IPDA Andri L. Pah, S.H., menduga motif korban nekad mengakhiri hidupnya karena mengalami depresi akibat tekanan dalam lingkungan keluarga dan pendidikan, “Sehingga korban memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara itu,” ungkap IPDA Andri L. Pah S.H..
Ia menjelaskan pula bahwa pihak keluarga korban menerima kematian korban sebagai ajal atau musibah dan menolak dlakukan otopsi terhadap jenazah korban dengan dibuatkan surat pernyataan oleh Pihak keluarga.(*)





Waduh
Turut berduka Cita 🙏