Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Rote Ndao, Yunor Lafu, (Foto Nemberalanews.com).
LUAMEO | Nemberalanews.com – Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Rote Ndao, Yunor Lafu, dalam orasinya di depan Mapolres Rote Ndao, saat Aksi Masa Jilid Empat menuntut pembebasan Erasmus Frans Mandato pada Kamis, 11 September 2025, menyampaikan seruan terbuka terkait penanganan sebuah kasus yang melibatkan masyarakat dan pihak kepolisian Polres Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.
Dalam orasinya, Yunor Lafu menekankan pentingnya komunikasi yang tulus dan terbuka, serta mengajak semua pihak untuk melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang.
“Ini bukan intervensi, ini bicara dari hati ke hati. Ada seni dan nilai yang perlu kita hargai,” ujar Yunor Lafu.
Baca Juga: Aksi Demontrasi Hari Keempat, Kapolres Enggan Temui Massa
Ia juga menyoroti pentingnya menghargai pihak-pihak yang tidak memiliki kesempatan untuk berbicara. Yunor Lafu secara khusus meminta kehadiran dan pemikiran konstruktif dari kepolisian Polres Rote Ndao. Dirinya mengajak untuk berpikir terbalik dan mempertimbangkan perspektif yang berbeda dari kebiasaan. Ia juga menekankan pentingnya investigasi yang seimbang, tidak hanya dari satu pihak, tetapi juga dari keluarga dan pihak-pihak terkait lainnya.
“Jika laporan dari PT. dijadikan dasar, seharusnya pernyataan dari keluarga dan bukti-bukti yang ada juga diselidiki,” tegasnya.
Yunor Lafu juga mempertanyakan keberanian pihak berwenang untuk mengevaluasi peristiwa yang terjadi, serta menyoroti adanya dugaan diskriminasi terhadap masyarakat kecil. Ia juga menolak anggapan bahwa massa aksi datang untuk membuat keributan. Ia menegaskan bahwa mereka datang untuk mencari keadilan dan meminta pihak kepolisian untuk menghargai integritas mereka.
“Kami datang untuk mencari keadilan, bukan untuk membuang-buang waktu,” tegasnya.
Yunor Lafu juga menyoroti taktik penggunaan perempuan sebagai “pagar” atau penghalang oleh pihak kepolisian. Ia menilai hal ini sebagai upaya meremehkan dan mempermainkan massa aksi, karena masyarakat Rote memiliki budaya yang menghormati perempuan dan tidak akan berani melakukan tindakan kekerasan terhadap mereka.
Di akhir orasinya, Yunor Lafu memohon kepada pihak-pihak terkait, khususnya Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polres Rote Ndao, AKP Viktor H. Saputra, S.Pi., M.Si., untuk memfasilitasi pertemuan dengan AKBP Mardiono, S.ST., M.K.P., selaku Kapolres Rote Ndao . Ia berharap Kapolres bersedia keluar menemui massa aksi dan mendengarkan aspirasi mereka.
“Kami memohon dengan segala kerendahan hati, tolong fasilitasi kami untuk bertemu Kapolres,” pungkasnya.(*)



