Jemi Jermias Lenggu, salah satu perwakilan dari petani sawah Mbukuoder Dusun Binioen, Desa Sedeoen, saat menunjukkan saluran pipa yang dibentang dari Embung ke lahan sawah yang belum memadai. (Foto Sergius S. Tobuawen)
SEDEOEN | Nemberalanews.com – Di tengah semangat Hari Tani Nasional yang diperingati setiap tanggal 24 September, para petani padi di sawah Mbukuoder, Dusun Bunioen, Desa Sedeoen, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, masih bergulat dengan berbagai permasalahan klasik.
Keterbatasan akses terhadap selang irigasi, traktor, dan mesin perontok padi menjadi kendala utama yang menghambat produktivitas mereka. Hari Tani Nasional, yang lahir dari semangat sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang diwujudkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960), seharusnya menjadi momentum untuk merefleksikan kembali pentingnya sektor pertanian dan kesejahteraan petani. Namun, bagi sebagian petani di pelosok Rote Ndao, makna tersebut masih terasa jauh dari jangkauan.
Jemi Jermias Lenggu (54), saat ditemui Nemberalanews.com pada hari Selasa, 23 September 2025, seorang petani dari RT 14 RW 6 Dusun Bunioen, mewakili suara masyarakat pekerja sawah Mbukuoder.
Ia mengungkapkan bahwa dalam setahun, mereka sebenarnya bisa panen padi sebanyak tiga kali. Namun, pada panen ketiga sering kali terhambat oleh musim hujan yang membuat proses penjemuran padi menjadi sulit.
“Kalau panen pas hujan itu setengah mati. Cara jemurnya susah,” keluhnya.
Selain masalah cuaca, Jemi juga menyoroti mahalnya biaya pengolahan lahan menggunakan traktor dan ongkos perontokan padi. Sistem bagi hasil yang diterapkan saat ini dirasakan kurang menguntungkan bagi petani. “Dulu kita pacul tanah dengan cara manual itu lama dapat, weh satu bulan cukainya belum selesai,” ujarnya menggambarkan betapa beratnya beban biaya yang harus ditanggung petani.
Jemi juga menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah setempat terhadap kebutuhan alat pertanian. Ia mencontohkan, di daerah lain seperti Nemberala, petani tidak memiliki lahan, tetapi memiliki akses terhadap traktor karena dukungan pemerintah desa yang baik. Sementara itu, di Bunioen, petani masih kesulitan mendapatkan traktor dan mesin perontok padi yang memadai.
“Kita minta traktor, tapi Kepala Desa Sedeoen kasih mesin rontok. Mesin rontok juga kualitasnya kurang baik. Nah, itu salah kan kotong mau traktor tanah, bukan mau rontok padi. Kan kita butuh traktor dulu baru rontok, tapi yang diterima rontok itu dari pemerintah desa Sedeoen,” ungkapnya.
Selain traktor dan mesin perontok, Jemi juga mengeluhkan mahalnya harga selang irigasi. Padahal, selang tersebut sangat dibutuhkan untuk mengairi sawah dari sumber air yang ada. “Selang satu roll kan seratus meter toh. Nah, kali dengan sekarang kalau dua dim itu su hampir Lima Juta, makanya kalau dia punya jarak Lima ratus meter itu kan Lima roll kan Mahal toh,” jelasnya.
Di akhir perbincangan, Jemi berharap agar Pemerintah Kabupaten Rote Ndao dan Pemerintah Pusat dapat memberikan bantuan berupa mesin traktor dan selang. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban petani dan meningkatkan produktivitas pertanian di Dusun Bunioen.
Kisah para petani di Dusun Bunioen adalah cerminan dari realitas yang dihadapi oleh banyak petani di berbagai daerah di Indonesia. Di tengah semangat Hari Tani Nasional, sudah seharusnya pemerintah dan seluruh pihak terkait memberikan perhatian lebih terhadap kesejahteraan petani. Bantuan alat pertanian, kemudahan akses terhadap pupuk, dan solusi terhadap permasalahan irigasi adalah beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan berkelanjutan. (*)




