
Ester Ndaomanu Kiuk (75) warga Kelurahan Onatali, Kecamatan Rote Tengah menangkap ikan ikan kecil yang terperangkap di celah-celah karang laut saat air laut sedang surut.(Foto: Daniel Mauk)
FE’APOPI | Nemberalanews.com – Sebagai pulau terluar Indonesia, Pulau Rote memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Misalnya topi anyaman dari daun lontar yang menjadi ciri khas lelaki Rote yang disebut Ti’i langga atau pun alat musik petik tradisional Sasandu.
Selain kedua ikon khas pulau Rote tersebut ada pula kain tenun ikat khas Rote yang juga terkenal di mancanegara sejak era kolonial. Ribuan kain tenun Rote, sudah lama menjadi koleksi beberapa museum di Eropa, Amerika serta Australia.
Namun tidak banyak yang mengetahui budaya orang Rote, khususnya masyarakat pesisir Rote yang dimasa lalu membuat jala serok penangkap ikan dari benang kapas.
Di Pulau Rote, jala penangkap ikan secara umum dikenal dengan sebutan ndai. Ada dua jenis ndai di Rote, yakni ndai yang dilempar atau ditebar, ndai jenis ini kerap digunakan oleh kaum lelaki dan biasa dipakai di perairan yang agak dalam. Sedangkan satunya lagi adalah ndai yang berukuran lebih kecil dan digunakan untuk menangkap ikan-ikan kecil yang terperangkap dicelah-celah karang. “Nah, ndai jenis ini lebih sering digunakan oleh kaum perempuan, dan digunakan saat terjadinya fenomena pasang surut air laut,” papar Gentry Amalo, arkeolog independen asal Rote Tengah.
Menurut Gentry Amalo, di masa lalu, warga pesisir Pulau Rote, membuat jala penangkap ikan dari benang kapas. “Proses pembuatan jala ini juga cukup sederhana yakni dengan memintal kapas menjadi benang dan kemudian merajut benang kapas tersebut menggunakan sudip jala. Dan proses pembuatan jala ini memakan waktu antara dua hingga tiga minggu,” terang Gentry Amalo yang ditemui Nemberalanews.com disela-sela diskusi serta pemutaran perdana film Ndai yang berlangsung di gedung gereja GMIT Ebenezer, Feapopi, Rote Tengah, Rabu, 17 Desember 2025.
Gentry menambahkan bahwa saat ini perajin pembuat jala serok dari benang kapas hanya tinggal satu orang saja, yakni Ester Ndaomanu Kiuk (75) atau yang lebih dikenal dengan panggilan mama Ette. “mama Ette adalah satu-satunya perempuan Rote yang masih menekuni pembuatan jala serok dari benang kapas.” terang Gentry Amalo.
Sementara, Andi Syarifudin, arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVI NTT mengatakan bahwa jala penangkap ikan dari benang kapas ini layak diusulkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) asal Pulau Rote. “Jadi ada kajian tradisinya, ada maestronya dan ndai dari benang kapas ini sudah masuk dalam katagori nyaris punah, karena tinggal satu orang saja, karena itu kalau bisa nanti berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan untuk dapat diusulkan menjadi warisan budaya tak benda,” pungkasnya.(*)




