Ketua Sinode GMIT, Pdt. Samuel Benyamin Pandie S.Th.,
MBUEAIN | NemberalaNews.com – Selain sebagai provinsi kepulauan terbesar di Indonesia, Nusa Tenggara Timur juga masuk dalam katagori provinsi termiskin di Indonesia. Guna mengentaskan masalah kemiskinan warga yang ada di provinsi ini maka perlu diambil inisiatif agar Nusa Tenggara Timur dapat keluar dari katagori provinsi termiskin di negara ini.
Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) sebagai organisasi gereja terbesar di NTT berinisiatif untuk mengambil langkah maju memerangi kemiskinan dengan melakukan kolaborasi dengan pemerintah. “Saat ini GMIT sedang membangun kolaborasi dengan pemerintah, baik itu di tingkat pusat dan provinsi serta Bank Indonesia Perwakilan NTT”, ungkap Pendeta Samuel Benyamin Pandie S.Th. Ketua Sinode GMIT saat ditemui Nemberalanews.com, Kamis 1 Mei 2025.
Menurut Pendeta Samuel Benyamin Pandie, kolaborasi yang dilakukan GMIT dan pemerintah pusat, provinsi serta Bank Indonesia bertitik tumpu pada “5 pilar”.
“Kolaborasi sinergi GMIT itu 5 pilar, satu diataranya yaitu pengembangan aset, pendampingan terhadap lahan-lahan jemaat, jadi kita lihat tanah-tanah yang adalah lahan jemaat warga GMIT, mari kita bantu advokasi untuk kerja sama dengan berbagai pihak yaitu salah satunya pemangku kebijakan Dewan Perwakilan Rakyat dan Bank Indonesia yang memang berkonsentrasi serius soal inflasi dan deflasi”, ujar Samuel Benyamin Pandie di sela-sela kunjungannya ke lahan padi Busamane, Dusun Lasi, Desa Oelolot, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao.
Pendeta Samuel Benyamin Pandie S.Th. juga menambahkan bahwa intervensi GMIT ke kelompok-kelompok tani juga penting dilakukan. “Terkait intervensi ini kita sifatnya mendampingi, membimbing memberi motivasi kepada kelompok yang mendapat manfaat”, imbuhnya.
Ia juga menyampaikan bahwa selain di Kabupaten Rote Ndao, GMIT juga fokus di daerah lain, semisal di Amfoang Utara Kabupaten Kupang, GMIT lebih fokus ke pohon buah. Di Rote itu ada padi dan bawang, di Pulau Semau juga ada bawang. “Jadi yang bisa kita lakukan adalah membangun kebijakan dengan pihak mana pun, dan tetap kita bangun kebijakan untuk menolong jemaat-jemaat kita. misalnya di beberapa tahun ini, masyarakat kekurangan alat, dan juga kurangnya edukasi mereka tentang hasil produksi, dikatakan hasil produksi tidak bisa dihitung berapa yang tanam cabe tapi hasilnya tidak maksimal, itu yang kita dampingi untuk diedukasi, termasuk juga alat-alat pertanian, pupuk, dan lain-lain”., paparnya.
Untuk diketahui dalam kerja sama antara GMIT dan Bank Indonesia (BI), serta pemerintah Nusa Tenggara Timur adalah suatu model kerja sama sebagai bentuk kolaborasi demi memerangi kemiskinan di NTT. Hal ini dilakukan dengan tujuan membangun holtikultura pada sektor pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat di NTT secara umum dan khususnya bagi warga GMIT.(*)






Up
Mari kita bersama GMIT memerangi kemiskinan di NTT.