
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Rote Ndao, Ny. Yane Henuk-Pellokila, gunakan Tenun hasil karya Penenun Desa Nemberala (Foto: Sergius S. Tobuawen).
NEMBERALA | Nemberalanews.com – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Rote Ndao, Ny. Yane Henuk-Pellokila, bersama tim serta Kepala Bidang Perindustrian Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Rote Ndao, Sonya Pellokila, S.Si, meninjau kelompok penenun di Desa Nemberala, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Selasa (3/3/2026).
Sebagai organisasi nirlaba yang menjadi mitra pemerintah dalam membina, mengembangkan, dan mempromosikan produk kerajinan lokal serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Dekranasda melakukan tinjauan langsung terhadap kelompok Penenun Ina Delha dan Daraeci.
“Disini ada ketua-ketua kelompok bersama anggotanya yang menghasilkan karya tenun dengan kualitas sangat baik,” ujar Ny. Yane saat ditemui Nemberalanews.com, usai kegiatan tinjauan di Kantor Desa Nemberala.
Menurut dia, karya tenun di Nemberala mencakup berbagai jenis motif khas Rote Ndao, antara lain Jenis motif Delha Nemberala dan motif Termanu, yang juga ada di berbagai kecamatan se-Kabupaten Rote Ndao.
Selama kunjungan, tim Dekranasda dan Disperindag juga mendengar langsung keluhan dari para penenun. “Mereka menyampaikan dua hal utama, yaitu belum adanya tempat khusus untuk menenun dan keterbatasan peralatan. Keluhan ini akan menjadi prioritas kerja bagi kami dari Dekranasda maupun Disperindag,” imbuhnya.
Selain meninjau dan mendengar keluhan, pihaknya juga membeli sebagian hasil tenun untuk dipasarkan di tempat Dekranasda yang berlokasi di Ba’a.
Sementara itu, Ketua Kelompok Penenun Ina Delha, Henderina Magdalena Hangge (69), menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bertujuan untuk melihat hasil karya penenun dan melakukan pembelian sebagian produk.
Ia juga mengungkapkan keluhan panjang yang dialami kelompoknya. “Pada tahun 2018, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pernah datang ke Rote dan membangun sebuah bangunan tenun untuk kami. Namun, setelah selesai dibangun, kunci bangunan tidak pernah diserahkan kepada kelompok penenun dan kini bangunan tersebut sudah dirusak,” ujar Henderina.
Ia berharap pemerintah Kabupaten Rote Ndao dapat memberikan perhatian lebih terhadap kelompok penenun dengan menyediakan gedung khusus dan bantuan peralatan penenun, agar budaya tenun khas daerah tidak punah atau hilang.(*)




