Menikmati senja di Pantai Namodale, Negeri Termanu. (Foto: Medi Mia)
NAMODALE | NemberalaNews.com – Nama Namodale mungkin masih terdengar asing di telinga para pelancong dan petualang di tanah air. Berbeda halnya dengan jika disebut nama Nemberala atau pun Bo’a, maka orang akan langsung terbayang pantai nan eksotis yang terletak di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.
Sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, Namodale merupakan desa kecil di tepi pantai utara Pulau Rote dengan bentang alam yang luar biasa indahnya, yang terdiri atas perbukitan rendah dan sebuah teluk yang terletak diantara dua perbukitan batu. Perbukitan batu inilah yang kita kenal dengan sebutan sebagai Batu Termanu.
Di Pulau Rote, orang lebih mengenal nama Batu Termanu daripada nama Namodale. Nama Namodale seolah tenggelam ditelan jaman, padahal jika diulik lebih mendalam Namodale adalah satu-satunya desa pelabuhan kuno di Rote yang sarat akan kisah, baik legenda tentang leluhur orang Rote maupun peristiwa-peristiwa bersejarah yang terkait dengan keberadaan jalur sutera di selatan Nusantara.
Dari Namodale inilah awal mula masuknya kolonialisme Belanda menjangkau seluruh daratan Rote. Usai VOC menduduki Benteng Concordia di Kupang, mereka sempat berpikir untuk menjadikan Pulau Rote sebagai benteng sekaligus pangkalan logistik mereka. Mulai disusunlah rencana tersebut karena dalam pandangan Belanda, Pulau Rote dapat menyediakan kebutuhan pangan, air bersih dan juga sumberdaya manusia bagi kepentingan Belanda menjaga eksistensinya di Benteng Concordia yang terletak di Teluk Kupang. Maka dipilihlah Namodale sebagai satu-satunya lokasi karena memiliki pelabuhan alam dengan kawasan perairan yang teduh dan dapat mengamankan kapal-kapal VOC dari serangan badai dan gelombang tinggi. Selain itu Namodale juga merupakan pelabuhan transit bagi kapal-kapal dagang asing yang hendak berburu kayu cendana di Pulau Timor.
Pada era 1720-an, di Namodale jugalah terjadi insiden kekerasan antara pasukan VOC dan pasukan Nusak (negeri) Termanu yang berujung pada tewasnya pimpinan VOC dan Manek Foe Mbura. Peristiwa tragis ini terjadi karena aksi pelecehan Kepala VOC yang saat itu sedang mabuk berat kepada permaisuri mendiang Manek Ndaomanu Sinlae yang juga merupakan ibu dari Manek Ballo Ndaomanu, penguasa Negeri Termanu kala itu.
Pada era 1920-an, seusai selesainya pembangunan dermaga pelabuhan boom di Ba’a, pemerintah Kerajaan Hindia-Belanda memindahkan pusat eksistensi mereka di Rote dari Namodale, Termanu ke Negeri Ba’a. Namodale yang semula penuh dengan aktifitas kehidupan kota pelabuhan perlahan kembali hening dan sepi dari hiruk pikuk sebuah pelabuhan dagang antar bangsa.
Kini yang tersisa hanya keindahan bentang alam pantai Namodale dan legenda Sualai-Batu Hun yang merupakan nama Batu Termanu dimasa lalu. Apalagi saat senja tiba, jingga senja yang berpendar di atas riak air laut yang teduh dan berpadu-padan dengan putihnya pasir membuat suasana hati menjadi tenteram dan damai. Tempat ini layak menjadi tempat perhentian para petualang pemburu senja.
Tiada kata lain, bahwa kawasan pantai Namodale yang sarat akan kisah sejarah dan legenda leluhur Negeri Termanu ini layak mendapatkan sentuhan tangan pemerintah Kabupaten Rote Ndao dan pihak swasta untuk dikembangkan menjadi pusat pariwisata unggulan berbasiskan komunitas di Rote Tengah.(*)





Keren peninggalan sejarah wajib dijaga pemerintah bukan malah dibiarkan terbengkalai dan hilang ditelan waktu. Prihatin sekali
Salam dari rantau putra Rote
saya Penasaran lokasi batu termanu ini, letak posisinya pas dimana dan ada bekas jejak peninggalan kerajaan VOC dan Manek Foeh Mbura. dan keren sunsetnya