BO’A | NemberalaNews.com – Sore itu, saat matahari mulai beranjak ke barat, dan jarum jam bergerak menuju ke pukul 16.00, empat bocah remaja bertubuh langsing dengan kulit yang terbakar matahari terlihat berjalan beriringan menuju Pantai Batuai. Senda gurau dan tawa lepas mengiringi langkah kaki mereka menuju pantai sembari membawa papan selancar, yang panjangnya melebihi tinggi tubuh mereka.
Keempatnya adalah Dirli Balu, Yakris Mesah, Tristan Marino Pasi, dan Putra Feoh. Mereka adalah remaja asal Bo’a, sebuah desa tepi pantai di ujung barat daya Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Dirli Balu dan Yakris Mesah baru berusia 16 tahun. Keduanya adalah siswa kelas X SMA Negeri I Sedeoen. Sedangkan Putra Feoh remaja berusia 14 tahun, siswa kelas IX dan yang termuda diantara mereka adalah Tristan Marino Pasi, remaja yang baru beranjak 13 tahun, siswa kelas VII. Putra dan Tristan adalah siswa SMP Satu Atap Bo’a.

Keempat remaja asal Desa Bo’a ini memiliki kegemaran berolahraga yang sama, yakni berselancar atau surfing. Mereka memulai belajar surfing pada tahun 2022 dengan keinginan mereka sendiri. Papan selancar yang mereka gunakan pun merupakan pemberian dari saudara dan kenalan baik mereka.
Aktifitas berselancar ini mereka lakukan hampir setiap hari, usai pulang sekolah dan dilanjutkan dengan mengerjakan pekerjaan rumah masing-masing. Setelah semuanya beres, mereka pun bergegas menuju pantai, menghabiskan waktu bersama untuk belajar surfing yang sudah menjadi hobi mereka.
Saat berada di air, para remaja itu menanti datangnya ombak. Keempatnya sudah hafal betul, ombak mana yang akan membawa mereka berselancar, meliuk melaju kencang di atas air hingga pecah menjadi buih putih di tepian pantai. Raut bahagia nampak dari wajah mereka saat berdiri di atas papan selancar yang meluncur dibawa ombak menuju ke tepian, begitu seterusnya berulang-ulang. Rasa lelah sama sekali tidak nampak dari wajah mereka.
Bagi keempatnya, berselancar di atas ombak menyimpan sejuta harapan dan impian “Kami berharap kedepannya Pemerintah Desa atau Pemerintah Daerah bisa mengadakan kegiatan lomba surfing supaya kami juga bisa ikut serta bertanding, dan harapan kami juga kelak bisa menjadi atlet surfing, tidak hanya sekedar latihan atau belajar surfing”, ungkap Dirli Balu, mewakili teman-temannya.
Pantai Batuai, Pelabuhan Bo’a dan Pantai Oemau, merupakan tempat-tempat favorit mereka dalam berlatih surfing. Namun tidak jarang mereka juga merasa sulit untuk masuk ke pantai Oemau karena akses jalan menuju pantai Oemau ditutup oleh perusahaan Bo’a Development atau Nihi.
“Kami berharap akses jalan ke pantai Oemau tetap dibuka”, ungkap Noldi, salah satu orang tua dari keempat remaja tersebut kepada NemberalaNews.com
Ia mengatakan bahwa sebagai orang tua, ia mendukung apa yang dilakukan oleh para remaja Desa Bo’a ini, “Agar kelak, ketika ada kegiatan lomba surfing, maka mereka sudah mampu bertanding atau bersaing dengan teman-teman sebayanya”, pungkas Noldi .(*)





keren om
awal yang indah
ada instagram juga
salam rahayu buat anak2 Rote
Salam Rahayu Bli .
Instagram bisa cek di akun PSOI NTT dan Tunas Muda Bo’a
Semangat para pejuang Atlet Surfing hingga cita-citamu tercapai, mohon supaya manajer nihi buka akses jalan sehingga pemuda/i bisa menikmati pantai boa dan ombak.
Tetap semangat berlatih adik”.,
Tetap semangat adik2. Semangat berselancar 👏🏻👏🏻👏🏻
Terbaik adik-adik 😍
Keren anak-anak hebat,nantinya bakalan jadi orang-orang hebat di Rote
Wow.. Keren. Tetap semangat menggapai cita-citanya adik2.