OETEFU | Nemberalanews.com – Petani garam tradisional di Desa Oetefu dan Desa Dolasi, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan usaha mereka yang masih mengandalkan metode tradisional.
Untuk memajukan usaha mereka ini, para petani garam berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah, agar produktivitas dan kualitas garam yang dihasilkan dapat meningkat.
Magdalena Lae, petani garam asal Desa Dolasi yang telah menekuni usaha ini selama 40 tahun, mengaku tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Ia dan puluhan petani garam lainnya bekerja pada lokasi tambak garam tradisional yang biasa disebut Nusa Rena.
“Sampai hari ini tidak pernah ada bantuan dari pemerintah sama sekali, padahal kami sangat membutuhkan. Terkadang untuk memenuhi kebutuhan produksi kami harus mengandalkan pinjaman dari koperasi. Berat rasanya, tapi demi usaha terpaksa kami lakukan. Belum lagi peralatan kami sudah usang dan butuh perbaikan,” ungkap Magdalena Lae saat ditemui Nemberalanews.com di lokasi tambak garam yang dikelolanya, Sabtu (24/8/2025).
Ia menambahkan, saat musim panen pihaknya juga kebingungan untuk menyalurkan garam produksi mereka karena tidak memiliki gudang penyimpanan. “Saat panen kami bisa menghasilkan 3 sampai 4 ton perbulan, jumlah ini tidak mungkin terjual semua dalam satu bulan karena akses pasar ke luar daerah juga tidak ada,” ujarnya.
Keluhan serupa datang juga dari Sarce Nggadas, petani garam dari Desa Oetefu yang telah 15 tahun menekuni usaha tambak garam. Sarce menyebut selama ini hanya sekali mendapatkan bantuan berupa ember dan pipa paralon, itu pun sudah lama, dirinya juga terus berharap mendapat perhatian dan bantuan dari pemerintah.
“Kami masih sangat membutuhkan bantuan pemerintah berupa gudang, akses pemasaran yang lebih luas, serta modal. Tanpa itu, garam produksi kami akan terus menumpuk tanpa ada pembeli, padahal kami hidup dari hasil garam ini”, ungkap Sarce saat ditemui di tambak garam Oetefu.
Sarce Nggadas menegaskan, para petani tambak tradisional juga berharap adanya pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).
“Harapan kami, pemerintah bisa memfasilitasi pasar yang lebih luas, memperhatikan modal, dan memberikan pelatihan, jangan sampai dengan adanya pabrik nanti justru kami dilengserkan dan tidak diperhatikan,” tegasnya.
Para petani tambak garam di Oetefu dan Dolasi kini menunggu uluran tangan pemerintah agar usaha yang telah diwariskan turun-temurun itu tetap bertahan di tengah berbagai keterbatasan.(*)




Pemdes Dolasi dan Oetefu, dan Camat Rote Barat Daya, Bupati Kabupaten Rote Ndao, Paulus Henuk dan Gubernur NTT tolong perhatiannya buat penambak gara tradisional.
Pemerintah desa dolasi dan oetefu harus memperhatikan usaha tambak garam yg menjadi mata pencaharian dari sebagian warga desa tersebut sehingga bisa menyentuh mereka dengan bntuan peralatan yg di butuhkan dalam proses pembuatan garam.
Sinergilah antara petambak tradisional dan pabrik besar jangan sampai ktng pung petani garam lokal malah terancam