Pidens Oktovianus Ndun (48), warga Desa Nemberala, bersama sisa sampan miliknya yang rusak parah akibat dibenturkan ombak di beton penahan gelombang Hotel Nemberala Beach. (Foto: Sergius S. Tobuawen)
NEMBERALA |Β Nemberalanews.com – Cuaca buruk yang melanda Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur beberapa hari terakhir ternyata telah mengakibatkan sejumlah sampan milik nelayan yang juga petani rumput laut di Kecamatan Rote Barat, mengalami rusak parah dan tidak dapat digunakan lagi. Tidak hanya itu saja, ada beberapa warga yang melaporkan bahwa sampan mereka hilang terbawa arus gelombang.
Pidens Oktovianus Ndun (48) warga RT.003 /RW.002 Dusun Nemberala Selatan, Desa Nemberala mengatakan bahwa ia mengikat sampan miliknya ditempat biasanya. “Saat cuaca buruk kemarin, gelombang yang tinggi membuat tali jangkar sampan saya putus, sampan itu kemudian saya temukan dalam keadaan hancur di dekat beton penahan ombak Hotel Nemberala Beach”, papar Pidens Oktavianus Ndun kepada NemberalaNews.com Sabtu 8 Januari 2025.
Saat ditemui di Pantai Nemberala, Pidens Ndun menunjukkan sisa sampannya yang rusak parah dan tidak bisa digunakan lagi. Padahal sehari-hari sampan itu menjadi penopang hidupnya sebagai nelayan dan juga petani rumput laut. “Butuh uang sekitar Rp. 10juta rupiah untuk membeli sampan baru”, ungkap Pidens Ndun.
Baca Juga:Β Akibat Cuaca Buruk, Sejumlah Sampan di Nemberala, Nyaris Terbawa Arus
Hal yang sama juga dialami Adrianus Kay (50) warga RT 01/RW 01, Dusun Nemberala Utara. Adrianus Kay mengatakan bahwa sampan miliknya terendam air hujan dan juga diombang-ambingkan gelombang tinggi. Peristiwa itu terjadi pada Kamis (6/2/2025) petang. “Akhirnya terbentur di batu karang yang berada di dalam air dan mengakibatkan bagian belakang sampan menjadi patah”, terang Adrianus Kay, usai mengangkat sampan miliknya dari dalam air untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman di daratan.
Pidens Ndun menambahkan bahwa akibat peristiwa itu, ia mengalami kerugian materi sebesar Rp.10.000.000,-. “.. kedepannya saya tambah susah akibat rusaknya sampan”, ungkap Pidens, yang berprofesi sebagai petani rumput laut.
Sementara itu ditempat terpisah, Yusup Mesah (48) Warga RT.003 / RW.003, Dusun Lutuoen, Desa Sedeoen mengisahkan bahwa sampan yang biasanya ia tambatkan di Pantai Leonao, Sedeoen telah hilang dari tambatannya pada Jum’at malam (7/2/2025). “Baru pada Sabtu (8/2/2025) pagi saya tahu kalau sampan saya sudah tidak ada ditempatnya dan sudah putus dari tali jangkarnya. Biasanya sampan itu saya tambatkan di Leonao usai mengikat rumput laut atau mengail ikan di perairan pantai Leonaoe.
Pidens Ndun, Adrianus Kay dan Yusup Mesah, adalah para nelayan pesisir yang juga memiliki aktifitas sebagai petani rumput laut. Mereka bertiga berharap pemerintah daerah segera tanggap dalam situasi darurat ini. Sembari memikirkan dan mencari solusi terbaik atas persoalan yang mereka hadapi saat ini.
“Rusak dan hilangnya sampan tentu sangat menganggu aktifitas para nelayan dan petani rumput laut seperti kami ini, jadi kami berharap pemerintah segera mengambil kebijakan agar kami dapat kembali bekerja normal”, terang Pidens Ndun (*)






Cuaca sekarang sangat ekstrim. Harus berhati-hati utk pesisir pantai delha
Semoga Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional Kab. Rote Ndao dapat membantu para masyarakat dalam situasi badai yg melanda Rote Barat dan Pulau Rote π
Kasihan masyarakat yang mengalami musibah bisa semoga bisa dapat bangkit kembaliπππππ