Fredrik Killi, petani rumput laut di Desa Nemberala, Kecamatan Rote Barat, Kab. Rote Ndao, NTT tengah menjemur rumput lautnya diatas degu-degu. Perubahan iklim dan cuaca saat ini berdampak terhadap kehidupan para petani rumput laut di pesisir barat Pulau Rote, NTT.
OENGGAUT | NemberalaNews.com – Petani rumput laut di Kecamatan Rote Barat, meminta perhatian Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur untuk membantu para petani rumput laut di Rote Barat yang saat ini tengah menghadapi sejumlah kendala akibat faktor iklim dan cuaca.
Ayub Bulu (51) petani rumput laut yang merupakan warga Dusun Isak Bulu RT.005/RW.003, Desa Oenggaut, mengatakan bahwa sebelum bulan Oktober 2024 yang lalu, produksi rumput lautnya dalam satu bulan mencapai 600 kg.
“Terhitung mulai Oktober 2024 hingga Januari 2025, Beta (saya) tidak timbang rumput laut lagi, karena noe (lembek). Sementara, pekerjaan pokok kami adalah mengikat rumput laut, tapi kalau sudah rusak mau kerja apa, kami berada di pesisir Pantai Desa Oenggaut, mata pencarian kami bertani rumput laut, na kalau agar-agar rumput laut rusak sudah pasti kami susah”, ungkap Ayub Bulu, saat ditemui NemberalaNews.com di kediamannya, Senin 20 Januari 2025 pekan lalu.
Hal serupa juga disampaikan Fredik Killi (58) warga Dusun Nggause RT.006 / RW 003, Desa Nemberala, Kec. Rote Barat yang mengatakan bahwa setelah masa tiga atau empat bulan lalu mengalami kerusakan akibat cuaca panas dan arus laut yang tidak menentu, kini rumput laut miliknya sedang mengalami perubahan dengan ditandai munculnya tunas-tunas baru. Namun Fredrik Killi sedikit pesimis atas munculnya tunas-tunas baru ini. “Kami belum tahu dengan munculnya tunas-tunas baru ini, apakah di musim panas nanti rumput laut ini bisa berkembang atau tidak”, paparnya.
Persoalan yang saat ini dihadapi para petani rumput laut di Kecamatan Rote Barat, tidak hanya terjadi di Desa Oenggaut dan Desa Nemberala. Persoalan serupa juga dikisahkan oleh Frengki Mesakh (34), petani rumput laut yang juga warga Dusun Oefoe RT.012 / RW.005, Desa Sedeoen. Frengki mengatakan bahwa sejak pertengahan tahun 2024 sampai saat ini ia tidak melakukan panen rumput laut, karena rusaknya rumput yang diikatnya, “Putus dari tali, kami ikat lagi dan rusak lagi. Saya membeli bibit dari Desa Oelolot, ikat di tali, tapi bibitnya rusak lagi”, ungkapnya.
Ia menduga, penyebab dari rusaknya rumput laut sekarang ini buntut dari tumpahan minyak Montara di tahun 2009 silam.
Frenki juga menambahkan bahwa solusi untukΒ menangani kesulitan yang saat ini dialami petani rumput laut di Kecamatan Rote Barat adalah kepekaan pemerintah Kabupaten Rote Ndao melihat persoalan para petani rumput laut.
“Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, harus bantu kami pengadaan bibit baru. Kalau bisa bibitnya jangan dari Rote. Selain itu juga Pemkab bisa membuat kajian ulang mengenai masalah rumput laut saat ini,” pungkasnya.(*)




Mantap
Persoalan budidaya rumput laut yg ada di NTT dipastikan karena tumpahan minyak. Sejak saat itu rumput laut hampir semuanya rusak dan yg masih bertahanpun pertumbuhannya tidak sebaik awalnya. Oleh karena itu memang perlu ada kajian dari dinas terkait untuk mencari solusi bagi pembudidaya. Untuk masalah bantuan bibit dari pemerintah kalau memang ada tolong jangan diambil dari wilayah yg di NTT. Kalau bisa didatangkan dari luar daerah yang tidak terdampak tumpahan minyak. Sekedar usulan. π
Ini su jadi sumber penghasilan utama buat ktg masyarakat Rote Barat. Semoga secepatnya ini limbah cepat hilang
Semoga ini wabah cepat hilang eee
Rumput laut su lama rusak di Rote barat. Semoga ada solusi
Semoga ada Perhatian Pemda dan DPRD Rote Ndao untuk Masalah Rumput.
Semoga pemerintah bisa mengatasi keluhannya petani rumput lautπππ
Semoga pemerintah bisa mendengar keluhannya petani rumput lautπππ