Petani rumput laut di pesisir Rote Barat, tengah menjemur rumput laut hasil panennya. Rumput laut yang sudah kering ini adalah bahan dasar pembuatan tepung agar-agar
NEMBERALA | NemberalaNews.com – Rusaknya rumput laut yang diikat petani rumput laut di Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, telah mempengaruhi tingkat produksi rumput laut kering yang menjadi bahan dasar makanan agar-agar. Dengan berkurangnya hasil produksi rumput laut ini secara otomatis telah menyebabkan turunannya pendapatan.
“Harga rumput laut kering saat ini mencapai Rp.17.000 perkilonya, harga ini tidak menetap juga, kadang bisa turun dan kadang juga bisa naik” ungkap Lot Martinus Heu (54), pengepul rumput laut kering, saat ditemui NemberalaNews.com, di kediamannya di Dusun Nggause RT.006/RW.003 desa Nemberala Kecamatan Rote Barat. Selasa, 21 Januari 2025 lalu.
Baca Juga: Terancam Gagal Panen, Petani Rumput Laut Minta Perhatian Pemkab
Menurut Martinus Heu, pada Juni 2024 hingga pada akhir September 2024 lalu, dalam masa satu bulan ia dapat menimbang hasil panen para petani rumput laut hingga mencapai 20 ton. Namun, dalam periode Oktober hingga Januari 2025 menurun, ia hanya bisa menimbang rumput laut kering sekira 7 ton setiap bulannya. “Jadi ada banyak penurunan drastis dan tentu saja ini mempengaruhi pendapatan para petani rumput laut”, terangnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Rote Ndao dan DPRD Rote Ndao agar menseriusi masalah rumput laut rusak di Kecamatan Rote Barat. Jika tidak segera diperbaiki dan diberikan perhatian serius oleh pemerintah daerah, maka dikhawatirkan kelak akan mempengaruhi kuota permintaan produsen atas bahan dasar agar-agar tersebut dan dialihkan ke daerah lain yang lebih berkompeten dalam memenuhi kuota pasokan.(*)




Tolong pemerintah daerah segera mengambil kebijakan membantu petani Rumput laut 🙏🙏🙏🙏
Sayang ehh petani rumput laut susah, mohon ada perhatian pemerintah terkait untuk membantu para petani 🙏